— Kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps) dikhawatirkan mempercepat potensi arus keluar dana investor asing dari pasar Indonesia. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), dan berlanjutnya aksi jual oleh investor asing menjadi risiko yang perlu diwaspadai pelaku pasar.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai kenaikan suku bunga acuan The Fed dapat mempercepat arus keluar dana asing, terutama jika imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun bertahan di kisaran 5%. Ia menekankan bahwa indikator yang perlu dicermati tidak hanya keputusan The Fed, melainkan kombinasi dari beberapa faktor.

“Fed hike bisa mempercepat outflow, apalagi US10Y sudah sekitar 5%. Tapi yang paling menentukan tetap kombinasi US10Y, DXY, rupiah, yield SBN, dan earnings domestik,” kata Liza, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, tekanan terhadap aset Indonesia akan semakin serius apabila dolar AS menembus level Rp 17.700 terhadap rupiah, bersamaan dengan imbal hasil SBN 10 tahun yang berada di atas 7,3%. Alarm ini mulai terlihat dari pergerakan rupiah yang ditutup melemah ke Rp 17.753 per dolar AS pada Kamis (17/9/2026), dari posisi Rp 17.696 pada hari sebelumnya.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (16/9) ditutup turun 0,38% ke level 6.436,85. Tekanan terjadi setelah indeks sempat menyentuh 6.535,46 sebelum kembali ditutup di level terendahnya. Pada sesi I Kamis, IHSG sempat menguat setelah keputusan The Fed menaikkan suku bunga 25 bps ke kisaran 3,75–4%, didukung oleh saham-saham bank jumbo.

Liza mengingatkan bahwa reaksi positif tersebut belum menghilangkan risiko tekanan terhadap pasar domestik, mengingat The Fed masih membuka ruang untuk kenaikan suku bunga lanjutan. Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan 16 dari 18 pejabatnya memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir 2026, sehingga suku bunga acuan AS berpotensi berada di kisaran 4–4,25% pada akhir tahun.

Asing Sudah Keluar Besar

Risiko ini menjadi semakin penting mengingat investor asing telah mencatatkan aksi jual yang signifikan sepanjang tahun ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pekan kedua September, investor asing membukukan *capital outflow* sekitar Rp 71,42 triliun sepanjang 2026. Pada periode 7–11 September saja, asing mencatatkan *net sell* Rp 3,36 triliun.

Padahal, pada awal September sempat terjadi perbaikan aliran dana, di mana investor asing mencatatkan *net buy* Rp 2,74 triliun sepanjang pekan pertama September. Namun, arus tersebut berbalik setelah tekanan pasar kembali meningkat.

Liza memprediksi, apabila *outflow* kembali membesar, saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki porsi kepemilikan asing tinggi akan berpotensi menjadi sasaran tekanan. “Paling rentan biasanya *big caps* likuid yang banyak dimiliki asing, terutama perbankan dan *index heavyweights*,” jelasnya.

Pada perdagangan sebelumnya, sejumlah saham besar memang menjadi sasaran jual asing. Data pasar menunjukkan saham seperti BMRI, BBCA, BBNI, dan TLKM mengalami tekanan jual asing, meskipun saham-saham berbasis logam relatif masih mendapatkan aliran dana. Kondisi ini mengindikasikan bahwa persoalan utama bukan hanya seberapa besar dana asing keluar dari Indonesia, tetapi juga pada saham mana dana tersebut keluar. Jika penjualan terkonsentrasi pada saham-saham dengan bobot besar terhadap IHSG, dampaknya terhadap indeks dapat jauh lebih besar dibandingkan jika *outflow* terjadi pada saham berkapitalisasi kecil.