— JAKARTA – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Penurunan ini terjadi setelah Arab Saudi mengumumkan penawaran tambahan pasokan minyak mentah melalui jalur transfer di lepas pantai Oman. Langkah tersebut dinilai berhasil meredakan kekhawatiran pasar global mengenai potensi gangguan pasokan yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent tercatat turun sebesar US$ 2,92 atau 2,7%, mencapai US$ 105,83 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami penurunan lebih dalam, yaitu US$ 3,40 atau 3,2%, ditutup pada level US$ 102,43 per barel.

Arab Saudi dilaporkan menawarkan pengiriman tambahan minyak mentah kepada sejumlah perusahaan penyulingan di Asia. Penawaran ini dilakukan melalui mekanisme transfer dari kapal ke kapal yang berlokasi di lepas pantai Oman, dekat dengan pelabuhan Sohar. Jalur transfer ini menjadi alternatif penting menyusul adanya gangguan pada jaringan pipa minyak utama Arab Saudi yang menghubungkan wilayah timur negara tersebut dengan Yanbu di pesisir Laut Merah.

Analis dari UBS, Giovanni Staunovo, menyambut baik kabar mengenai peningkatan ekspor minyak Saudi melalui jalur Teluk tersebut. Ia menilai langkah ini sebagai sinyal positif bagi stabilitas pasar. “Berita bahwa Arab Saudi dapat mengekspor minyak dari Teluk menunjukkan kekhawatiran terhadap gangguan yang lebih besar mulai mereda,” ujar Staunovo.

Sebelumnya, pada hari Selasa, harga minyak sempat melonjak lebih dari US$ 3 akibat penghentian sementara pengiriman minyak mentah dari Yanbu yang memicu kekhawatiran akan ketersediaan pasokan. Arab Saudi juga dikabarkan membatalkan sejumlah pengiriman minyak ke pasar Eropa.

Jalur pipa East-West merupakan salah satu infrastruktur krusial bagi Arab Saudi, berfungsi mengalirkan minyak dari wilayah produksi di timur negara itu menuju terminal ekspor di Yanbu.

Meskipun pasokan dari Arab Saudi mulai memberikan sedikit kelonggaran bagi pasar, risiko gangguan distribusi minyak secara global masih tetap tinggi. Lalu lintas pengiriman kapal melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran vital lainnya, terpantau masih berada di bawah normal. Data menunjukkan hanya empat kapal yang melintas Selat Hormuz pada Selasa, turun dari tujuh kapal sehari sebelumnya, dan jauh di bawah rata-rata harian sebanyak 18 kapal dalam 10 hari terakhir.

Pasar juga memberikan perhatian serius terhadap data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Laporan dari Energy Information Administration (EIA) mengungkapkan bahwa stok minyak mentah AS mengalami penurunan sekitar 640.000 barel pada pekan lalu. Angka penurunan ini lebih kecil dibandingkan ekspektasi para analis dalam jajak pendapat Reuters yang memprediksi penurunan sebesar 1,62 juta barel.

Harga BBM Menjadi Sorotan

Di sisi lain, data persediaan bensin dan produk olahan lainnya justru menunjukkan peningkatan. Kenaikan stok diesel dilaporkan lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

John Kilduff, seorang analis dari Again Capital, berpendapat bahwa data persediaan produk olahan yang meningkat menjadi faktor negatif bagi pergerakan harga minyak. Ia menjelaskan, “persediaan produk olahan masih meningkat, sementara penurunan stok minyak mentah mulai melambat.”

Saat ini, perhatian pasar tidak hanya terfokus pada harga minyak mentah, tetapi juga merambah pada harga produk olahan seperti diesel. Gangguan pasokan yang berasal dari Timur Tengah dan Rusia telah menyebabkan pengetatan pasar produk olahan secara global.

Harga kontrak gasoil Eropa dan diesel Amerika Serikat dilaporkan telah mencapai rekor tertinggi. Rusia juga mengumumkan perpanjangan pembatasan ekspor diesel hingga akhir bulan Oktober.

Di kawasan Timur Tengah, ketegangan geopolitik terus meningkat. Arab Saudi dilaporkan melancarkan serangan udara ke Yaman, sementara kelompok Houthi membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah wilayah Saudi. Houthi juga mengklaim telah kembali menyerang fasilitas minyak di Yanbu.

Citigroup memperkirakan bahwa eskalasi konflik dalam jangka pendek masih berpotensi menopang harga minyak dan bahan bakar olahan. Namun, pasar diperkirakan akan kembali mendapatkan pasokan yang lebih besar apabila Selat Hormuz kembali dibuka melalui jalur diplomasi pada kuartal keempat tahun 2026.

Staunovo menambahkan bahwa harga diesel diperkirakan masih akan bertahan tinggi selama belum ada perkembangan signifikan terkait upaya perdamaian dan perbaikan situasi pasokan dari Rusia.