DailyFX.ID — Harga emas menembus level US$ 4.400 per ons troi pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Penguatan ini terjadi setelah logam mulia tersebut melonjak hampir 7,5% sepanjang pekan lalu. Namun, kenaikan ini menghadapi zona resistance penting menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Saat berita ditulis, harga emas tercatat naik 0,24% menjadi US$ 4.400,71 per ons troi. Market Analyst Forex.com, Fawad Razaqzada, mengatakan bahwa reli emas pada pekan lalu kembali menarik perhatian pelaku pasar setelah harga bergerak sideways selama beberapa pekan di sekitar US$ 4.000 per ons troi.
Razaqzada masih skeptis apakah breakout tersebut dapat berkembang menjadi tren kenaikan yang berkelanjutan atau hanya sekadar reli tajam dalam fase konsolidasi yang lebih luas. “Saya masih skeptis dan menilai prospek emas dalam jangka pendek masih belum jelas,” ujar Razaqzada dalam risetnya.
Kenaikan emas sebelumnya didukung oleh pelemahan data tenaga kerja AS yang menekan dolar. Data terbaru menunjukkan payrolls turun 20.000, sementara revisi data bulan sebelumnya menghapus lebih dari 100.000 lapangan pekerjaan dari estimasi awal. Pelemahan pasar tenaga kerja ini meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar, dan dolar yang melemah membuat emas lebih murah bagi pembeli di luar AS.
Ujian berikutnya bagi emas datang dari data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Juli yang akan dirilis Rabu (12/8/2026). Ekonom memperkirakan CPI naik 0,1% secara bulanan dengan inflasi tahunan 3,4%. Sementara itu, inflasi inti diperkirakan naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan.
Jika data CPI yang dirilis lebih rendah dari perkiraan, hal ini dapat memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih longgar dan mendukung harga emas. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi berpotensi mendorong penguatan dolar dan imbal hasil obligasi, yang dapat menekan harga emas.
Level Penting Emas
Razaqzada mengamati, zona US$ 4.365- 4.425 per ons troi menjadi resistance utama bagi emas. Jika harga mampu bertahan di atas zona tersebut, reli terbaru akan semakin menguat sebagai tren kenaikan.
“Namun, jika emas gagal menembus resistance, risiko koreksi meningkat. Support awal berada di kisaran US$ 4.300-4.305 per ons troi, disusul US$ 4.200 per ons troi dan US$ 4.100-4.120 per ons troi,” jelas Razaqzada.
Selain itu, kenaikan harga minyak hampir 5% juga menjadi risiko terhadap prospek emas karena dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Razaqzada menilai, fundamental emas saat ini sedikit lebih mendukung setelah sejumlah data ekonomi AS berada di bawah ekspektasi. Namun, arah selanjutnya akan sangat bergantung pada data inflasi dan perkembangan harga minyak.
Ikuti DailyFX.ID
