DailyFX.ID — JAKARTA – Harga emas global menunjukkan tren kenaikan yang berkelanjutan, mencapai US$ 4.430 per troy ounce pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026. Pengamat pasar emas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi kenaikan ini akan terus berlanjut hingga level US$ 5.200 per troy ounce.
“Harga emas dunia masih akan mengalami kenaikan, ada kemungkinan di kuartal ketiga mencapai level US$ 5.200 per troy ounce. Ada kemungkinan juga bisa tercapai sebelum kuartal ketiga, kemungkinan di minggu kedua bulan ini juga berpeluang mendekati level US$ 5.200,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).
Jika rekor US$ 5.200 per troy ounce berhasil ditembus, Ibrahim melihat potensi kenaikan lebih lanjut ke kisaran US$ 5.500-5.600 per troy ounce pada akhir tahun 2026.
Ibrahim menjelaskan, lonjakan harga emas ini didukung oleh sejumlah sentimen global. Faktor utamanya meliputi pelemahan indeks dolar AS, perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran, ekspektasi suku bunga Federal Reserve, serta aksi beli oleh bank-bank sentral global.
Meskipun Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menyatakan niat perdamaian dengan Iran tanpa perjanjian nuklir, dan Iran serta Oman sepakat mengawasi situasi di Selat Hormuz untuk kelancaran perlintasan energi, sentimen ini tidak serta-merta menekan harga emas.
“Iran melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Uni Emirat Arab yang akan melewati Selat Hormuz namun hal ini tidak berdampak terhadap harga emas dunia,” jelas Ibrahim.
Kelancaran arus distribusi minyak di Selat Hormuz berkontribusi pada stabilitas harga minyak dunia, yang pada gilirannya meredakan kekhawatiran lonjakan inflasi di Amerika Serikat. Hal ini membuka peluang bagi Federal Reserve untuk menahan suku bunga pada pertemuan September 2026.
“Sehingga pada pertemuan di bulan September 2026 kemungkinan pejabat bank sentral Amerika Serikat akan menahan suku bunga. Bahkan jika inflasi AS relatif mendekati 2%, Federal Reserve (memiliki ruang) menurunkan suku bunga tahun ini,” papar Ibrahim.
Selain itu, permintaan emas pada bulan Juli menunjukkan peningkatan signifikan. China dilaporkan melakukan pembelian emas sebesar 10-20 ton. Menurut Ibrahim, hal ini mengindikasikan bank-bank sentral global menyadari potensi lonjakan harga emas di masa depan dan berupaya menambah simpanan lindung nilai mereka.
“Kemudian kita melihat permintaan untuk emas di bulan Juli terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan, dengan China melakukan pembelian emas sebesar 10-20 ton. Artinya bank-bank sentral global sudah mengetahui bahwa harga emas dunia akan terus mengalami lonjakan sehingga berlomba-lomba kembali melakukan pembelian untuk menyimpan lindung nilai,” ia menyoroti. Tingginya permintaan emas dari bank sentral global diprediksi akan mendorong kenaikan harga lebih lanjut.
Ikuti DailyFX.ID
