— Harga emas dunia mengalami lonjakan signifikan, menembus rekor baru di atas US$ 4.400 per troy ounce. Pada perdagangan Selasa (11/8/2026), harga emas tercatat naik 0,24% menjadi US$ 4.400,71 per troy ounce.

Analis memperkirakan momentum kenaikan ini dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga acuan dan permintaan yang terus menguat dari bank-bank sentral di seluruh dunia. Para analis emas di Heraeus melaporkan bahwa emas mencatatkan kinerja mingguan terbaiknya sejak awal tahun 2026.

Kenaikan lebih dari 7% pekan lalu ini terjadi di tengah sinyal positif terkait kesepakatan yang akan segera diumumkan untuk membuka kembali Selat Hormuz. “Hal ini memicu lonjakan harga logam mulia secara menyeluruh, seiring dengan penurunan harga minyak dan ekspektasi suku bunga riil,” ungkap para analis Heraeus, dikutip dari Kitco News, Selasa (11/8/2026).

Penurunan harga minyak mentah Brent di bawah US$ 85 per barel, setelah sempat menyentuh US$ 100 per barel pada 23 Juli 2026, juga berkorelasi dengan berkurangnya kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada pertemuan FOMC mendatang. “Jika Selat Hormuz segera dibuka dan harga minyak terus turun, tingkat harga konsumen yang lebih rendah dapat mengurangi urgensi pengetatan kebijakan moneter,” tambah mereka.

Heraeus juga mencatat peningkatan aksi pembelian emas oleh bank sentral global pada bulan Juni 2026, termasuk partisipasi dari lembaga-lembaga baru. Polandia dan China menjadi pembeli terbesar, masing-masing menambah cadangan 19 ton dan 15 ton. Uzbekistan menambah 9 ton, sementara Kazakhstan dan Singapura masing-masing membeli 7 ton emas. Yordania dan Republik Ceko juga tercatat meningkatkan kepemilikan emas mereka.

Di sisi lain, Rusia dan Turki tercatat sebagai penjual emas pada bulan tersebut, dengan masing-masing melepas 9 ton dan 2 ton emas. Perbedaan sikap ini mencerminkan strategi diversifikasi cadangan antar bank sentral. “Pembelian bersih yang tercatat mencapai 102 ton pada semester pertama 2026 meskipun terdapat penjualan gabungan sebesar 127 ton oleh Turki dan Rusia, yang menunjukkan bahwa permintaan dari sektor resmi tetap menjadi sumber dukungan penting bagi harga emas,” pungkas para analis Heraeus.