DailyFX.ID — Harga emas mencatat kenaikan mingguan terbaiknya sejak Januari, berhasil menembus pola konsolidasi yang telah berlangsung selama enam pekan. Penguatan ini menjadi sinyal teknikal penting, meskipun arah reli selanjutnya masih akan dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pekan ini.
Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), harga emas ditutup melonjak 2,39% ke level US$ 4.342,18 per ons troi. Dalam sepekan, emas menguat sebesar 7,45%, sementara secara year-to-date (ytd) mencatatkan kenaikan 0,36%.
Senior Technical Strategist Forex.com, Michael Boutros, mengatakan bahwa harga emas telah menembus pola konsolidasi enam pekan dan kini menguat lebih dari 10,8% dari level terendah tahun ini. Menurutnya, breakout ini telah membawa harga emas melewati zona pivot utama dan membuka peluang pengujian kembali terhadap tren penurunan tahunan.
Sebelumnya, Boutros menilai harga emas bergerak dalam pola konsolidasi yang terdefinisi dengan baik di atas level terendah tahunan. Kondisi tersebut membuat breakout menjadi faktor krusial untuk menentukan arah pergerakan harga berikutnya.
Boutros menyebutkan target awal penguatan emas berada di US$ 4.319-4.330 per ons troi, yang merupakan area rata-rata pergerakan 52 pekan sekaligus level pembukaan tahunan. Area ini juga bertepatan dengan garis kanal April dan garis paralel 25% dari tren kenaikan yang lebih luas. Penutupan mingguan di atas area tersebut menjadi sinyal konstruktif bagi harga emas.
Namun, indikator momentum mulai menunjukkan bahwa emas telah memasuki area yang perlu diperhatikan. Indeks Kekuatan Relatif (RSI) harian telah naik di atas 65, level tertinggi sejak Januari. Sementara itu, momentum mingguan ditutup netral di level 50.
Oleh karena itu, emas membutuhkan penguatan lanjutan pada pekan ini untuk memastikan breakout tersebut mampu berkembang menjadi tren kenaikan yang lebih berkelanjutan. “Data inflasi dapat menjadi katalis,” ujar Boutros dalam risetnya.
Lebih lanjut, Boutros menambahkan bahwa resistance utama selanjutnya berada di US$ 4.493-4.533 per ons troi. Area ini mencakup penutupan mingguan saat harga mencapai titik terendah pada Maret, retracement 38,2% dari penurunan Maret, serta penutupan tertinggi emas pada 2025. Garis paralel atas dari tren turun tahunan juga diperkirakan bertemu dengan zona tersebut dalam beberapa pekan mendatang. Jika emas mencapai area ini, Boutros memperkirakan potensi reaksi harga yang lebih besar.
Setelah itu, resistance berikutnya berada di US$ 4.855-4.894 per ons troi, yang merupakan area retracement 61,8% dan penutupan mingguan tertinggi sepanjang masa.
Waspada Level Support
Di sisi lain, Boutros menyebutkan support mingguan awal emas berada di US$ 4.175 per ons troi, yang merupakan level penutupan mingguan saat emas mencatat level terendah tahun ini. Support berikutnya berada di kisaran US$4.002-4.017 per ons troi, yang bertepatan dengan level penutupan terendah pada akhir Oktober dan Juli.
Boutros memperingatkan bahwa penembusan dan penutupan mingguan di bawah US$ 4.175 dapat mengancam keberlanjutan tren kenaikan dan membuka ruang bagi emas untuk kembali melanjutkan tren turun tahunan. Jika skenario ini terjadi, emas berpotensi bergerak menuju level US$ 3.887 per ons troi, kemudian support berikutnya di sekitar US$ 3.700 per ons troi.
Sebaliknya, selama harga mampu bertahan di atas US$4.175, prospek kenaikan emas masih relatif konstruktif. “Dari perspektif perdagangan, kerugian sebaiknya dibatasi pada US$4.175 jika emas memang melanjutkan kenaikan dari level ini,” ujar Boutros sembari menambahkan bahwa pelaku pasar dapat mengantisipasi reaksi harga yang lebih besar jika emas mendekati garis paralel atas di sekitar US$4.500 per ons troi.
Selain faktor teknikal, arah harga emas pekan ini juga akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi AS. Setelah laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang lebih lemah dari perkiraan pekan lalu, perhatian pasar kini beralih ke data inflasi.
Consumer Price Index (CPI) AS akan dirilis pada Rabu (12/8/2026). Sehari berikutnya, pasar akan mencermati Producer Price Index (PPI), sedangkan pada Jumat (14/8/2026) perhatian beralih ke data retail sales control group. Data ini penting karena akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Boutros mengatakan, pasar telah mulai mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter tambahan. Berdasarkan harga kontrak Fed funds futures, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan depan kini mencapai sekitar 58%.
Jika data CPI menunjukkan tekanan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, ekspektasi tersebut berpotensi semakin menguat. “Kondisi ini dapat mengurangi tekanan dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS dan menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi harga emas,” tutupnya.
Ikuti DailyFX.ID
