— Harga emas mengalami penurunan pada perdagangan Senin (10/8/2026), setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam tujuh pekan. Penurunan ini terjadi seiring aksi ambil untung oleh investor pasca reli kuat yang dicatat logam mulia tersebut. Pasar kini juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Saat berita ditulis, harga emas tercatat turun 0,33% menjadi US$ 4.327,73 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga dilaporkan melemah 0,26% menjadi US$ 4.387,05 per ons troi.

Pada perdagangan Jumat (7/8), harga emas sempat mencapai level tertingginya sejak 17 Juni. Level tersebut tercapai setelah data tenaga kerja AS yang dirilis lebih lemah dari perkiraan pasar, sehingga meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed.

Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, menilai pelemahan emas saat ini lebih mencerminkan aksi ambil untung investor setelah reli pada pekan lalu. Ia berpendapat bahwa ini bukan indikasi perubahan sentimen yang signifikan terhadap emas.

“Harga emas masih akan mendapat dukungan di atas level US$ 4.300 per ons troi dalam jangka pendek,” kata Waterer seperti dikutip dari Reuters.

Data pemerintah AS sebelumnya menunjukkan bahwa ekonomi negara tersebut secara tak terduga kehilangan lapangan pekerjaan pada bulan Juli. Selain itu, revisi turun yang tajam juga terjadi pada pertumbuhan pekerjaan selama dua bulan sebelumnya.

Perkembangan data tenaga kerja ini mengubah ekspektasi pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan yang dijadwalkan 15-16 September. Saat ini, pasar menilai peluang kenaikan suku bunga berada di bawah 50%.

Kondisi suku bunga yang lebih rendah secara umum cenderung meningkatkan daya tarik emas. Hal ini disebabkan oleh sifat logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Fokus Ekonomi AS dan Risiko Geopolitik

Perhatian pasar kini tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Data Consumer Price Index (CPI) dijadwalkan keluar pada Rabu (12/8), diikuti oleh Producer Price Index (PPI) pada Kamis (13/8).

Waterer memperkirakan bahwa jika data inflasi yang dirilis lebih lemah, hal tersebut dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya. Situasi ini berpotensi membuka ruang kenaikan lebih lanjut bagi harga emas.

Namun, ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Eskalasi konflik di kawasan tersebut yang kembali mendorong kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap harga emas.

Di pasar komoditas lainnya, harga perak spot terpantau turun 0,2% menjadi US$ 63,45 per ons troi. Harga platinum melemah 0,1% menjadi US$ 1.742,50 per ons troi, sementara palladium mengalami pelemahan signifikan sebesar 1,1% menjadi US$ 1.362,97 per ons troi.