— Harga emas dunia masih berada dalam tren penguatan, meskipun berpotensi mengalami koreksi dalam jangka pendek. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai pelemahan tersebut justru dapat menjadi pijakan sebelum emas kembali melanjutkan reli.

Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat turun 0,45% ke level US$ 4.322,14 per ons troi. Geraldo menyatakan, area US$ 4.227-4.232 per ons troi menjadi level penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Jika harga mampu bertahan di area tersebut dan tekanan beli kembali muncul, peluang emas melanjutkan penguatan dinilai semakin terbuka.

“Dalam tren bullish yang sehat, harga umumnya tidak bergerak naik secara lurus tanpa jeda. Setelah kenaikan signifikan, pasar biasanya membentuk secondary trend atau koreksi jangka pendek sebelum melanjutkan penguatan,” ujar Geraldo dalam risetnya, Senin (10/8/2026).

Geraldo menambahkan, koreksi tidak serta-merta menjadi sinyal perubahan tren menjadi bearish. Struktur bullish emas masih terjaga selama harga mampu bertahan di atas area support dan indikator teknikal utama.

Salah satu penopangnya adalah Moving Average (MA) 21 yang masih bergerak menanjak dan berfungsi sebagai dynamic support. “Kondisi tersebut menunjukkan tren utama emas masih berada dalam jalur penguatan,” tambah Geraldo.

Dolar dan Yield Jadi Penopang Emas

Dari sisi fundamental, Geraldo mengatakan, prospek emas masih mendapat dukungan dari pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis lebih lemah dari ekspektasi.

“Data tersebut memunculkan spekulasi bahwa The Fed memiliki ruang lebih besar untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter jika perlambatan ekonomi berlanjut,” paparnya.

Pelemahan dolar cenderung mendukung emas karena membuat logam mulia tersebut lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Penurunan imbal hasil US Treasury juga meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan bunga.

“Ketidakpastian geopolitik, termasuk perkembangan pembukaan kembali Selat Hormuz, turut menjaga minat terhadap emas sebagai aset safe haven,” jelas Geraldo.

Geraldo menyebutkan, perhatian pasar pekan ini tertuju pada data inflasi AS yang berpotensi menjadi katalis penting bagi arah emas berikutnya. Jika inflasi melandai, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed berpotensi meningkat dan memberikan dorongan tambahan bagi emas. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan membatasi penguatan emas.

Geraldo menilai prospek harga emas secara keseluruhan masih positif. Selama harga bertahan di area US$ 4.227-4.232 per ons troi dan MA 21 tetap bullish, peluang kenaikan dinilai masih lebih besar dibandingkan risiko pelemahan yang lebih dalam.