— Harga emas mengalami penurunan pada perdagangan Senin, 21 September 2026. Investor saat ini tengah mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu inflasi dan memengaruhi arah suku bunga global.

Pada saat berita ini disusun, harga emas tercatat turun 0,61% menjadi US$ 4.351,21 per ons troi. Sebelumnya, emas sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan pada Jumat. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga dilaporkan jatuh 0,81% menjadi US$ 4.388,65 per ons troi.

Pasar kini kembali menimbang potensi siklus kenaikan suku bunga global. Hal ini menyusul langkah sejumlah bank sentral utama yang mulai memperketat kebijakan moneter untuk meredam laju inflasi, yang salah satunya dipicu oleh konflik di Iran.

Bank of Japan menjadi bank sentral besar terbaru yang menaikkan suku bunga pada Jumat. Sebelumnya, The Fed juga telah melakukan kenaikan suku bunga pada pekan sebelumnya, diikuti oleh European Central Bank yang juga menaikkan suku bunga pada pekan sebelumnya.

Kenaikan suku bunga menjadi tantangan tersendiri bagi emas. Aset berbasis bunga menjadi semakin menarik bagi investor dibandingkan emas, yang tidak memberikan imbal hasil.

“Fokus pasar saat ini tetap pada isu geopolitik, pergerakan harga minyak, dan respons imbal hasil obligasi. Agar emas dapat memperoleh momentum kenaikan yang berarti, kemungkinan diperlukan penurunan harga minyak dan/atau imbal hasil obligasi yang jelas,” kata Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer.

Menurut Waterer, harga emas berpotensi bergerak dalam kisaran US$ 4.200 hingga US$ 4.580 per ons troi dalam jangka pendek.

Konflik Iran Jadi Sorotan

Pergerakan harga emas juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, sementara militer Iran menyatakan akan memberikan respons keras jika terjadi serangan baru.

Di sisi lain, harga minyak dunia mengalami penurunan. Penurunan ini terjadi karena pasar berharap jalur diplomasi dalam konflik Iran mendapat kesempatan pada pekan ini, terutama di tengah agenda Sidang Umum PBB. Investor juga mencermati kemungkinan pemulihan sebagian pengiriman minyak dari Arab Saudi, meskipun serangan oleh kelompok Houthi dari Yaman masih berlangsung.

Penurunan harga minyak menjadi faktor penting bagi emas. Hal ini karena dapat meredakan tekanan inflasi dan mengurangi kebutuhan bank sentral untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.

Namun, jika konflik kembali memicu kenaikan harga energi dan inflasi, pasar dapat semakin mempertimbangkan kebijakan moneter yang ketat untuk jangka waktu lebih lama.

Analis dari Standard Chartered menilai bahwa emas masih menunjukkan volatilitas, namun permintaan dari sektor resmi memberikan dukungan yang kuat pada harganya. Menurut mereka, faktor struktural yang mendukung emas masih bertahan, meskipun laju kenaikannya diperkirakan akan lebih lambat.

Dengan demikian, arah pergerakan harga minyak dan imbal hasil obligasi menjadi dua indikator penting yang akan dicermati oleh investor emas dalam menghadapi prospek kebijakan moneter global.

Sementara itu, harga perak spot terkoreksi 0,29% menjadi US$ 66,06 per ons. Platinum juga turun 0,17% menjadi US$ 1.799,66 per ons. Palladium menjadi satu-satunya yang mengalami kenaikan, melonjak 1,33% menjadi US$ 1.316,65 per ons.