DailyFX.ID — JAKARTA – Nilai tukar rupiah (IDR) berhasil berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat, 25 September 2026. Rupiah ditutup menguat 13 poin atau 0,07% ke posisi Rp 17.903 per dolar AS, naik dari penutupan sebelumnya di Rp 17.916 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini, menurut Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, didorong oleh perhatian terhadap kerja sama fiskal antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI). Langkah ini diharapkan dapat meredam pelemahan mata uang domestik.
Dari sisi eksternal, sentimen positif datang dari potensi penyelesaian konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah-langkah penjajakan penyelesaian tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan potensi pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Iran.
Selain itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi kesepakatan antara Washington dan Beijing untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan mereka hingga 10 Januari 2027. Kesepakatan ini dicapai setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
“Para pejabat Federal Reserve juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lanjutan,” tambah Ibrahim dalam keterangannya pada Jumat (25/9/2026).
Rupiah juga mendapat dorongan dari rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global AS yang positif. PMI Komposit secara tak terduga melonjak ke level tertinggi dalam lima tahun terakhir, mencapai 58,4 pada September 2026.
Sementara itu, data klaim awal tunjangan pengangguran AS untuk pekan yang berakhir 19 September menunjukkan penurunan menjadi 197.000, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memprediksi angka 201.000.
Ikuti DailyFX.ID
