DailyFX.ID — Harga minyak dunia ditutup menguat sekitar 1% pada perdagangan Senin (14/9/2026). Penguatan ini dipicu oleh serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan kapal-kapal di Timur Tengah, yang menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global.
Menurut laporan Reuters, harga minyak sempat melonjak hampir 5% sebelum akhirnya memangkas kenaikan. Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan dengan Washington.
Harga minyak Brent tercatat naik US$1,07 (1%) menjadi US$105,68 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mengalami kenaikan US$1,34 atau 1,3% hingga mencapai US$101,39 per barel.
Kekhawatiran mengenai pasokan kembali meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi. Bersamaan dengan itu, negara-negara Arab Teluk menunda pembicaraan yang telah direncanakan dengan Iran. Situasi ini menambah kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat meluas dan mengancam pasokan minyak dunia.
Kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan serangan puluhan rudal dan drone ke pangkalan udara militer di Khamis Mushait, yang terletak di Arab Saudi bagian selatan. Serangan tersebut dilaporkan menyasar hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan depot amunisi.
Kelompok tersebut menyatakan bahwa serangan ini merupakan balasan atas serangan udara yang dilancarkan oleh Saudi di Yaman.
Tekanan terhadap pasokan semakin besar pasca serangan pada Jumat (11/9/2026) yang melumpuhkan pipa minyak East-West milik Arab Saudi. Jalur pipa ini memungkinkan ekspor minyak negara-negara Teluk untuk menghindari Selat Hormuz, yang saat ini mengalami gangguan.
Pipa yang membentang melintasi Semenanjung Arab ini membawa minyak menuju pelabuhan di Laut Merah. Gangguan operasionalnya berpotensi memengaruhi hingga 4% pasokan minyak global.
Data pelacakan kapal awal menunjukkan bahwa lalu lintas kapal komoditas melalui Selat Hormuz turun menjadi hanya satu digit per hari pada akhir pekan. Angka ini jauh di bawah rata-rata 14 kapal per hari yang tercatat dalam 10 hari sebelumnya.
Sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Dengan pipa East-West Saudi yang tidak beroperasi, pelabuhan minyak Yanbu di Laut Merah harus mengandalkan persediaan yang ada. Tiga sumber industri memperkirakan cadangan tersebut hanya cukup untuk menutupi kebutuhan ekspor selama lima hingga tujuh hari.
Perkembangan Rusia-Ukraina Turut Mempengaruhi
Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh perkembangan perang antara Rusia dan Ukraina.
Trump menyatakan bahwa Rusia dan Ukraina telah sepakat untuk tidak menyerang fasilitas energi satu sama lain. Pekan lalu, serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia turut mendorong harga rata-rata diesel AS ke rekor tertinggi.
Apabila kesepakatan tercapai untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, ekspor energi Rusia berpotensi mengalami peningkatan. Rusia merupakan anggota OPEC+ dan menjadi produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia pada tahun 2025, setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi, berdasarkan data energi AS.
Namun, kenaikan harga minyak tertahan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.
Investor memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu (16/9/2026), yang akan membawa kisaran suku bunga ke level 3,75%-4%.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, dikenal enggan memberikan panduan mengenai arah suku bunga. Namun, investor memprediksi kenaikan bunga karena inflasi yang masih tinggi, harga minyak yang berada di atas US$100 per barel, serta penekanan Warsh terhadap pentingnya menjaga stabilitas harga dan memperhatikan sinyal dari pasar keuangan.
Suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi serta permintaan energi.
Ikuti DailyFX.ID
