DailyFX.ID — Kelompok Houthi dari Yaman yang beraliansi dengan Iran kembali melancarkan serangan ke wilayah Arab Saudi dan memperkuat posisinya di pesisir Laut Merah. Eskalasi ini mendorong dilakukannya pembahasan darurat di Riyadh, sementara pembicaraan diplomatik antara negara-negara Teluk dengan Iran mengalami penundaan.
Senin (14/9/2026), kelompok Houthi mengklaim telah menembakkan puluhan rudal dan drone ke pangkalan udara militer di Khamis Mushait, Arab Saudi selatan. Serangan ini dilaporkan menargetkan hangar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan gudang amunisi sebagai respons atas serangan udara koalisi di Yaman.
Otoritas Arab Saudi merespons dengan mengeluarkan peringatan darurat di empat kota wilayah selatan. Koalisi pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa 13 warga sipil mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Kelumpuhan Pipa Minyak dan Ancaman Pasokan Energi Global
Pergerakan militer Houthi di pesisir barat, termasuk penguasaan Pulau Perim di mulut Laut Merah, meningkatkan tekanan terhadap jalur ekspor minyak Arab Saudi. Sebelumnya, serangan udara pada pekan lalu telah melumpuhkan operasional pipa minyak lintas timur-barat sepanjang 1.200 kilometer (km).
Pipa yang dibangun pada era 1980-an ini dirancang untuk mengalirkan minyak menuju Laut Merah, menghindari ancaman di Selat Hormuz. Para pelaku pasar mengkhawatirkan penutupan pipa secara berkepanjangan dapat memotong hingga 4% dari total pasokan minyak mentah dunia.
Eskalasi konflik ini menjadi tantangan baru bagi Amerika Serikat. Pemerintah AS dilaporkan masih menolak permintaan Arab Saudi untuk intervensi militer langsung dan memilih membatasi dukungan pada bantuan intelijen.
Di sisi lain, rencana pertemuan diplomatik di Oman yang melibatkan negara-negara Teluk dan Iran untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz resmi ditunda atas permintaan Arab Saudi. Pihak Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan tidak akan ada perundingan sebelum syarat-syarat yang diajukan Iran dipenuhi.
Insiden Kapal Tanker dan Penutupan Pelayaran
Kondisi pelayaran di kawasan tersebut semakin tidak menentu seiring munculnya laporan mengenai kerusakan kapal tanker berbendera Panama, El Gaia. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim kapal tersebut terkena ranjau laut saat melintasi zona terlarang di Selat Hormuz.
Namun, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) membantah klaim tersebut dan menyatakan kapal itu rusak akibat serangan rudal Iran pada bulan sebelumnya. Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO), insiden tersebut menyebabkan dua pelaut dinyatakan hilang.
Jalur pelayaran utama minyak dunia tersebut sebagian besar telah ditutup sejak pertempuran membara pada 28 Februari 2026, seiring ancaman Iran terhadap setiap kapal yang melintas tanpa izin.
Krisis yang melanda kawasan Semenanjung Arab dan Laut Merah berakar dari konflik berkepanjangan di Yaman sejak 2015. Koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah resmi Yaman melawan kelompok Houthi. Meskipun sempat mereda melalui kesepakatan gencatan senjata selama beberapa tahun, dinamika militer kawasan kembali memicu pertempuran terbuka.
Selat Hormuz dan pesisir Laut Merah merupakan dua urat nadi paling vital bagi jalur perdagangan energi dunia. Sekitar 20% dari total pasokan minyak mentah dunia melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Penutupan jalur pelayaran atau gangguan infrastruktur di wilayah ini berdampak langsung terhadap stabilitas harga energi global, peningkatan biaya logistik, serta eskalasi ketegangan politik antara negara-negara Barat dan kekuatan regional di Timur Tengah.
Ikuti DailyFX.ID
