DailyFX.ID — Bank investasi ternama asal Swiss, UBS, mempertahankan proyeksi optimis pada harga emas untuk sisa tahun 2026 hingga 2027. Harga emas ditutup menguat 0,75% ke level US$ 4.348,93 per troy ounce pada perdagangan Jumat (11/9/2026).
UBS juga mengantisipasi pergerakan harga emas masih dapat terdampak kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS itu secara luas diantisipasi akan menaikkan suku bunga.
“Kami kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali pada tahun 2026, sehingga meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas; aset yang tidak menghasilkan pendapatan,” ujar UBS sebelum rilis data inflasi AS.
Dalam prakiraan terbarunya, UBS memproyeksikan harga emas mencapai US$ 4.600 per troy ounce pada Desember 2026, kemudian US$ 5.000 per troy ounce pada Maret 2027, dan US$ 5.200 per troy ounce pada Juni 2027 mendatang.
“Permintaan dari bank sentral juga tetap kuat, didorong oleh diversifikasi cadangan dan keinginan jangka panjang untuk mengurangi eksposur terhadap aset-aset berdenominasi dolar AS,” ungkap UBS.
Sebelumnya, analis komoditas di UBS menilai emas tetap memiliki peran strategis sebagai aset investasi terlepas dari tren penurunan harga dan kebijakan moneter The Fed.
“Tekanan akibat imbal hasil riil yang lebih tinggi dan dolar AS yang kuat kemungkinan akan terus menjadi hambatan jangka pendek bagi emas. Namun, sama halnya dengan pandangan kami bahwa keputusan jangka pendek The Fed tidak melemahkan prospek jangka menengah ekuitas global yang didukung oleh belanja AI, aktivitas ekonomi yang tangguh, dan pertumbuhan laba yang luas, kami juga berpendapat bahwa keputusan tersebut tidak mengurangi peran strategis emas dalam sebuah portofolio,” ungkap Chief Investment Office di UBS dalam sebuah catatan, dikutip dari Kitco News.
Para analis di bank tersebut menyoroti sejumlah faktor utama yang diperkirakan akan mendukung harga emas dalam jangka menengah.
Faktor pertama adalah kuatnya permintaan emas batangan dari bank sentral. Salah satunya, bank sentral China yakni People’s Bank of China membeli 650.000 ons emas (sekitar 20 metrik ton) pada bulan Agustus, naik dari 640.000 ons pada Juli 2026, yang merupakan penambahan bulanan terbesar sejak Oktober 2023.
Faktor selanjutnya, kekhawatiran fiskal diperkirakan akan memperkuat tren jangka panjang diversifikasi yang beralih dari dolar AS menuju aset-aset alternatif.
“Tingginya utang pemerintah juga diperkirakan akan memperkuat pergeseran bertahap untuk mengurangi ketergantungan yang terkonsentrasi pada dolar AS. Hal ini seharusnya menguntungkan emas, yang secara luas dipandang sebagai penyimpan nilai yang andal dan alternatif bagi mata uang cadangan tradisional,” kata para analis di UBS.
Ikuti DailyFX.ID
