DailyFX.ID — Arus modal masuk ke dalam dana investasi terindeks (Exchange-Traded Fund/ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan angka positif sepanjang tahun ini. Pemulihan harga mata uang kripto terbesar tersebut melalui rebound berhasil membangkitkan kembali minat para investor pasar modal.
Investor menyuntikkan dana segar mencapai US$ 4,6 miliar ke instrumen tersebut sejak 19 Agustus 2026, tepatnya saat Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana peningkatan pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang. Keputusan pemerintah tersebut berhasil membalikkan tren penarikan dana yang sempat menekan pasar pada awal 2026.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg internasional pada Rabu (23/9/2026), kelompok dana ETF Bitcoin spot secara akumulasi bersih telah membukukan arus masuk sekitar US$ 320 juta pada 2026.
Sejak pengumuman tersebut, harga Bitcoin melonjak sekitar 35% hingga melampaui level US$ 86.000. Lonjakan ini sekaligus mengakhiri periode kelesuan harga yang menahan posisi Bitcoin di bawah level US$ 80.000 sejak Februari 2026. Di bursa New York pada Rabu pagi waktu setempat, token kripto utama ini diperdagangkan pada kisaran US$ 85.900.
Pemulihan harga ini turut mendorong total nilai kapitalisasi pasar aset digital secara keseluruhan kembali menyentuh angka US$ 3 triliun untuk pertama kalinya sejak Januari 2026, merujuk pada data dari CoinGecko.
Seiring dengan meningkatnya harga, aktivitas perdagangan berdaya ungkit (leverage) juga mencatatkan kenaikan. Data dari Coinglass menunjukkan nilai posisi terbuka (open interest) pada kontrak berjangka abadi (perpetual futures) di seluruh aset kripto melonjak hingga mendekati US$ 160 miliar, yang merupakan level tertinggi sejak akhir Oktober 2025.
Kembali bergairahnya permintaan ETF menandai perubahan arah pasar jika dibandingkan dengan awal tahun, saat aksi pencairan dana secara terus-menerus membebani kinerja ETF di tengah tekanan harga Bitcoin.
Kepala Riset pialang Pepperstone, Chris Weston, menyatakan rata-rata pemegang ETF Bitcoin spot di AS saat ini sudah berada dalam posisi memperoleh keuntungan yang belum direalisasikan. Ia memperkirakan rata-rata harga pembelian Bitcoin yang dipegang oleh dana ETF berada di level US$ 82.000.
Menurutnya, setelah melewati masa penurunan harga yang cukup signifikan, kembalinya harga ke atas rata-rata titik impas tidak serta-merta menjadi pemicu utama bagi investor untuk langsung melakukan aksi ambil untung.
Sementara itu Direktur Senior Paul Howard di perusahaan perdagangan Wincent menilai, reli harga kali ini cukup mengejutkan banyak pihak, mengingat sebagian besar perhatian pelaku pasar sepanjang tahun ini tertuju pada perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI).
Howard menambahkan, pergerakan harga saat ini terlihat semakin stabil dan berkelanjutan, dengan arus modal masuk ETF memberikan landasan dukungan kuat di rentang harga US$ 80.000 hingga US$ 85.000. Tren positif yang kuat ini dinilai semakin mendekatkan Bitcoin ke target harga US$ 100.000 pada akhir tahun yang banyak didiskusikan oleh para analis.
Peluncuran ETF Bitcoin spot di bursa saham AS pada awal 2024 menjadi salah satu tonggak sejarah terpenting dalam adopsi aset kripto global. Kehadiran instrumen ini memungkinkan investor institusional maupun ritel untuk mendapatkan paparan investasi Bitcoin secara langsung melalui rekening broker konvensional tanpa harus mengelola kunci privat (private key) atau dompet digital secara mandiri.
Sepanjang perjalanan 2026, dinamika pasar Bitcoin sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter global dan perubahan likuiditas makroekonomi. Pada awal tahun, ketidakpastian suku bunga dan kekhawatiran regulasi sempat memicu gelombang penarikan dana (outflows) dari produk ETF, yang menekan harga Bitcoin bertahan di bawah kisaran US$ 80.000 selama beberapa bulan.
Namun, keputusan Departemen Keuangan AS untuk mengintervensi pasar obligasi melalui program pembelian kembali obligasi jangka panjang memberikan suntikan likuiditas baru ke pasar keuangan global. Kebijakan ini mendorong investor kembali melirik aset-aset berisiko tinggi (risk-on assets), termasuk Bitcoin dan pasar kripto secara luas.
Arus masuk modal ke ETF kini menjadi indikator utama kesehatan industri kripto, karena mencerminkan besarnya partisipasi modal institusional dalam mendorong stabilitas serta pertumbuhan harga jangka panjang.
Ikuti DailyFX.ID
