DailyFX.ID — Harga Bitcoin (BTC) terpantau goyah pada perdagangan Jumat (25/9/2026) pagi. Di tengah pergerakan harga yang masih tertekan, sejumlah korporasi mulai mengurangi bahkan meninggalkan strategi penempatan Bitcoin sebagai aset treasury.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.45 WIB, harga Bitcoin melemah tipis 0,04% menjadi US$ 84.402 per koin atau sekitar Rp 1,51 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.962 per dolar AS.
Kapitalisasi pasar kripto global terlihat naik 0,45% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,88 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar menguat 0,24%. Ethereum (ETH) terkerek 0,29% menjadi US$ 2.689, sedangkan Binance Coin (BNB) melonjak 1,44% menjadi US$ 776.
Perusahaan semikonduktor asal Prancis, Sequans Communications, telah sepenuhnya mengakhiri strategi Bitcoin treasury setelah menjual seluruh sisa kepemilikannya sebanyak 314 BTC. Langkah tersebut menutup strategi yang sebelumnya membuat Sequans mengakumulasi lebih dari 3.200 BTC.
Perseroan menyatakan penjualan Bitcoin dilakukan setelah penebusan utang konversi pada Mei 2026 dan memungkinkan perusahaan kembali fokus pada bisnis inti cellular internet-of-things (IoT) serta software-defined radio. CEO Sequans Communications Georges Karam mengatakan, penjualan Bitcoin digunakan untuk melunasi utang konversi sekaligus memperkuat neraca perusahaan.
Setelah transaksi tersebut, Sequans tidak lagi memiliki aset kripto dan tidak memiliki utang selain kewajiban riset dan pengembangan yang dibiayai pemerintah. Sequans sebelumnya meluncurkan strategi Bitcoin treasury pada Juni 2025 setelah mengumumkan penjualan surat berharga ekuitas dan surat utang konversi senilai US$384 juta. Saat itu, Karam menyebut Bitcoin sebagai aset unggulan dan investasi jangka panjang yang menarik.
Namun, strategi tersebut mulai dikurangi kurang dari enam bulan kemudian. Pada November 2025, Sequans menjual 970 BTC untuk melunasi separuh utang konversinya. Pada Mei 2026, perusahaan menyatakan tidak lagi menjalankan strategi treasury tersebut dan akan menjual sisa Bitcoin secara bertahap.
Fenomena Pengurangan Kepemilikan Bitcoin oleh Korporasi
Fenomena pengurangan kepemilikan Bitcoin oleh korporasi juga terjadi di sejumlah perusahaan lain. Kondisi tersebut berlangsung di tengah pasar kripto yang masih menghadapi tekanan pada 2026.
Matthew Sigel, Head of Digital Assets Research VanEck, mengidentifikasi sedikitnya sembilan perusahaan yang telah sepenuhnya melikuidasi atau meninggalkan strategi Bitcoin maupun kripto treasury pada 2026. Sejumlah perusahaan lain juga memilih mengurangi kepemilikannya.
Salah satu pembalikan strategi yang cukup besar dilakukan Satsuma Technology. Perusahaan yang tercatat di Inggris tersebut sebelumnya menghimpun 100 juta pound sterling atau sekitar US$135 juta melalui surat utang konversi pada Juli 2025 untuk memperluas treasury Bitcoin. Setahun kemudian, pemegang saham Satsuma memilih mengembalikan sebagian besar modal perusahaan sekaligus membatalkan pencatatan saham.
Dewan perusahaan kemudian mengizinkan penghentian aktivitas perdagangan dan penjualan seluruh kepemilikan sebanyak 669 BTC. Perusahaan lain yang disebut telah sepenuhnya melepas Bitcoin sepanjang tahun ini antara lain Bitdeer, Genius Group, dan Prenetics. Sementara itu, MARA Holdings dan Empery Digital melakukan penjualan dalam jumlah besar tanpa sepenuhnya meninggalkan strategi treasury mereka.
Keputusan korporasi tersebut didorong berbagai alasan, mulai dari pembayaran utang, kebutuhan modal kerja, pengembalian modal kepada pemegang saham, hingga perubahan strategi bisnis.
Ikuti DailyFX.ID
