DailyFX.ID — Bank Indonesia (BI) memberikan penjelasan mengenai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini. Stabilitas rupiah dipengaruhi oleh turbulensi perekonomian global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Hal ini diperparah oleh kekhawatiran inflasi global dan prospek fiskal yang mendorong imbal hasil surat utang AS atau US Treasury 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007, yaitu 5,11%.
“Tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas US$100 per barel,” ungkap Erwin dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis (24/9/2026).
Dari sisi domestik, nilai tukar rupiah juga mendapat tekanan dari kebutuhan valuta asing (valas) importir menjelang akhir kuartal III-2026. Selain itu, terjadi juga arus keluar portofolio dari aset negara berkembang (emerging markets).
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (24/9/2026) pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah dibuka melemah 52 poin atau 0,29% ke posisi Rp 17.870 per dolar AS. Sementara itu, dolar AS tercatat stabil di level 101,13.
Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik. Penguatan strategi operasi moneter pro-pasar juga dilakukan untuk mengelola struktur suku bunga pasar uang.
Lebih lanjut, efektivitas stabilisasi dan kecukupan likuiditas diperkuat melalui peningkatan insentif Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka pendanaan luar negeri. Hal ini mencakup perluasan transaksi underlying yang meliputi arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment.
Erwin menambahkan, intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar juga terus diperkuat.
“Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan penguatan secara quarter to date (qtd) sebesar 0,46%. Cadangan devisa meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026,” jelas Erwin.
Ikuti DailyFX.ID
