DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Jumat (25/9/2026) dengan sentimen yang beragam, dipengaruhi oleh faktor global dan domestik yang membuat investor perlu mencermati pergerakan pasar lebih lanjut. Pada saat berita ditulis, IHSG tercatat melemah tipis 2,65 poin atau 0,04% ke level 6.295,95, meskipun sempat menunjukkan tren positif di awal sesi.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa secara teknikal, IHSG telah menguji batas Moving Average 60 hari (MA60) untuk kali kedua. Hal ini mengindikasikan bahwa momentum penguatan pasar mulai mereda. “MA20 dan MA60 masih dalam kondisi positive crossover. Meskipun demikian, Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume,” ujar Nafan.
Untuk perdagangan hari itu, sentimen IHSG diperkirakan berada dalam kategori mixed-to-cautious. Nafan menetapkan level support IHSG di angka 6.254 dan 6.146, sementara level resistance berada di 6.352 dan 6.429.
Salah satu faktor tekanan utama datang dari pasar obligasi Amerika Serikat. Yield obligasi AS tenor 10 tahun melonjak ke level 5,205%, yang merupakan rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh data aktivitas bisnis AS yang kuat dan tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.
Kondisi ekonomi AS yang tetap tangguh justru meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, atau bahkan kembali menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28 Oktober 2026 meningkat menjadi 70,86%, naik dari 68,64% pada hari sebelumnya.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak. Minyak Brent melonjak 3,86% ke level US$ 107,06 per barel. Kenaikan ini terjadi karena harapan terhadap terobosan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran belum membuahkan hasil. Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi global melalui peningkatan biaya transportasi dan produksi, yang pada akhirnya dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Menurut Nafan, penurunan harga minyak secara berkelanjutan menjadi salah satu kunci penting untuk meredakan tekanan di pasar obligasi dan ekuitas. Selain itu, perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga menjadi katalis yang signifikan bagi pasar global. Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping mencakup berbagai isu strategis, mulai dari perdagangan, Taiwan, energi, ekspor rare earth, pembelian produk pertanian, penjualan chip AS ke Tiongkok, hingga regulasi kecerdasan buatan (AI).
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 5,75%. Namun, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih perlu dicermati. Rupiah tercatat telah terdepresiasi 0,59% ke level Rp 17.900,5 per dolar AS. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban emiten yang memiliki utang dalam valuta asing sekaligus membatasi ruang BI untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter.
Selain itu, investor juga tengah mencermati penyesuaian posisi menjelang pemberlakuan aturan baru mengenai batas minimum harga saham menjadi Rp 1, yang akan menggantikan batas sebelumnya sebesar Rp 50. Aturan baru ini dijadwalkan efektif mulai Senin, 28 September 2026.
Ikuti DailyFX.ID
