DailyFX.ID — Banyak generasi Z mengeluhkan dompet yang menipis di pertengahan bulan, namun tetap rutin membeli kopi kekinian, menonton konser, atau melakukan checkout keranjang belanja di tengah malam. Perilaku ini bukan didorong oleh kebutuhan riil, melainkan rasa “pantas” setelah seminggu penuh bekerja keras. Fenomena ini dikenal sebagai doom spending, yaitu belanja impulsif yang dipicu oleh stres dan kecemasan terhadap masa depan.
Survei Credit Karma yang dikutip Vogue mencatat bahwa sekitar 43% milenial dan 35% Gen Z pernah melakukan doom spending. Masalahnya bukan pada secangkir kopi atau tiket konser itu sendiri, melainkan pergeseran pola pikir you only live once menjadi ekstrem. Sebagian pekerja muda merasa target finansial jangka panjang, seperti uang muka rumah, membutuhkan waktu puluhan tahun dan terasa mustahil dikejar dengan penghasilan yang ada. Alih-alih menyusun strategi, banyak yang memilih menyerah dan mengalihkan uang untuk kesenangan instan.
Fenomena ini memiliki penjelasan ekonomi yang dikenal sebagai lipstick effect. Saat kondisi ekonomi tertekan, orang cenderung membeli barang mewah yang terjangkau, seperti kopi seduh manual atau skincare premium, sebagai cara menjaga rasa nyaman dan gengsi tanpa mengeluarkan uang sebesar membeli aset besar. Namun, batas antara self-reward yang sehat dan over-spending yang merugikan sering kali tidak jelas. Kemudahan fitur paylater membuat transaksi terasa ringan, padahal berpotensi menumpuk cicilan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Agustus 2023 mencatat nilai penyaluran fintech lending mencapai Rp 20,53 triliun, dengan sekitar 60% penggunanya berasal dari kalangan milenial dan Gen Z berusia 19-34 tahun. Hal ini menjadi sinyal bahwa kebiasaan belanja emosional, jika dibiarkan, bisa berujung pada jebakan utang, bukan sekadar dompet yang menipis sesaat.
Bukan berarti self-reward harus dihapus total dari gaya hidup. Kepuasan kecil tetap memiliki fungsi penting sebagai penjaga kewarasan di tengah tekanan hidup yang serba tidak pasti. Yang perlu diubah bukan kebiasaannya, melainkan cara mengelolanya. Berikut langkah praktis yang bisa diterapkan:
- Terapkan formula 50/30/20. Alokasikan 50% penghasilan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk hiburan dan self-reward, serta 20% untuk tabungan atau investasi.
- Tunda pembelian 24 jam. Beri jeda sebelum checkout untuk menilai ulang apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau sekadar pelampiasan emosi.
- Siapkan dana darurat terlebih dahulu. Jangan langsung berinvestasi pada instrumen berisiko sebelum memiliki penyangga untuk kondisi darurat.
- Cari alternatif self-reward nonmateriil. Jalan kaki, memasak, menggambar, atau quality time bersama teman dapat memberikan efek penyembuhan yang sama tanpa menguras rekening.
- Kenali Tren JOMO. Selain tren FOMO, saat ini muncul istilah JOMO atau Joy Of Missing Out. Alih-alih mengikuti tren belanja atau investasi yang viral, sebagian anak muda kini justru mengambil jeda dan membuat keputusan finansial berdasarkan kebutuhan atau nilai personal, bukan karena takut ketinggalan.
Self-reward dan investasi sebenarnya bisa berjalan beriringan, asal ada batas yang jelas dan porsi yang disadari. Healing boleh saja, asal jangan sampai menjadi alasan untuk lupa menabung demi masa depan.
Ikuti DailyFX.ID
