— JAKARTA – Nilai wajar emas diprediksi dapat mencapai US$ 5.000 per ons seiring adanya pergeseran faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga logam mulia tersebut. Perubahan ini menandai pergeseran dari dominasi suku bunga riil menjadi likuiditas global.

Director of Global Macro Fidelity Investments, Jurrien Timmer, mengamati bahwa penguatan harga emas baru-baru ini bertepatan dengan indikasi pemulihan likuiditas global. Berdasarkan model regresi yang menghubungkannya dengan jumlah uang beredar global (M2), valuasi emas saat ini berada di kisaran US$ 5.000 per ons.

“Berdasarkan regresi gold & liquidity yang saya gunakan untuk melihat hubungan antara M2 global dan emas, nilai emas berada di kisaran US$ 5.000,” ungkap Timmer dalam analisisnya di LinkedIn, seperti dilansir Kitco News.

M2 sendiri merupakan ukuran jumlah uang beredar yang mencakup uang tunai, simpanan untuk transaksi, serta instrumen lain yang relatif likuid. Dalam konteks analisis Timmer, M2 global berfungsi sebagai indikator utama likuiditas dalam sistem keuangan dunia.

Timmer menilai bahwa sejak 2022, telah terjadi perubahan rezim penggerak harga emas. Jika sebelumnya pergerakan harga logam mulia ini lebih erat kaitannya dengan perubahan suku bunga riil, kini likuiditas menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan nilainya.

Ia juga menyoroti kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat yang melakukan pembelian kembali (buyback) surat utang jangka panjang dalam skala besar, bersamaan dengan penerbitan lebih banyak Treasury Bills (T-Bills) atau surat utang pemerintah AS berjangka pendek.

Menurut Timmer, kebijakan ini memberikan tekanan pada dolar AS, sekaligus menjadi pendorong bagi harga emas dan bitcoin. Pasar kini juga disebut mulai mengantisipasi risiko yang mengarah pada dominasi fiskal dan potensi berkurangnya independensi Federal Reserve (The Fed).

Timmer menambahkan, untuk menjaga imbal hasil obligasi tetap rendah, skala pembelian kembali surat utang kemungkinan perlu diperbesar. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuka peluang keterlibatan The Fed melalui mekanisme seperti Operation Twist.

“Kebijakan fiskal yang longgar dikombinasikan dengan kebijakan moneter yang longgar jelas menjadi faktor negatif bagi dolar AS, sekaligus menjadi faktor positif bagi harga emas, dan sebagai perluasannya juga bagi bitcoin,” pungkasnya.