DailyFX.ID — Para pengelola dana obligasi terbesar di Amerika Serikat mengambil sikap bertahan di tengah volatilitas pasar surat utang sepanjang 2026. Menghadapi ketidakpastian kebijakan fiskal dan lonjakan penerbitan utang sektor teknologi, manajer investasi yang mengelola dana hampir US$ 700 miliar memilih untuk menghindari spekulasi makroekonomi berskala besar dan beralih ke instrumen berkualitas tinggi.
Arvind Narayan, Co-Head Investment-Grade Credit Vanguard Group, menyatakan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk berspekulasi. “Sekarang adalah waktunya untuk selektif, bekerja secara konservatif, dan memilih posisi dengan sangat cermat,” ujarnya.
Dilema Imbal Hasil Tinggi dan Lonjakan Utang Sektor Teknologi
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tahun ini dipicu oleh kekhawatiran inflasi yang berkelanjutan dan pembengkakan defisit anggaran negara, dengan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bertahan di kisaran 5%. Bersamaan dengan itu, pasar obligasi korporasi menghadapi risiko penilaian dan maraknya penerbitan surat utang besar untuk mendanai proyek kecerdasan buatan (AI).
Indeks Bloomberg Aggregate mencatat penurunan sekitar 1% sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu kinerja paling lesu sejak 2022. Meskipun banyak manajer aktif berhasil melampaui indeks acuan, imbal hasil keseluruhan portofolio mereka masih berada di zona merah.
Pramod Atluri, Manajer Portofolio Capital Group, mengingatkan, “Jika Anda tidak dibayar sepadan untuk mengambil risiko, Anda tidak seharusnya mengambil risiko dalam portofolio obligasi inti. Posisi investasi dapat terganggu sewaktu-waktu akibat perubahan dinamika politik.”
Dan Ivascyn, Chief Investment Officer PIMCO, menambahkan bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan belanja infrastruktur AI menciptakan potensi risiko yang lebih ekstrem. “Banyak orang selalu mencari keputusan besar (big call), tetapi kami lebih memilih mengumpulkan kemenangan-kemenangan kecil melalui pencarian gagasan investasi yang tepat di berbagai lini,” tuturnya.
Reksa dana obligasi AS mencatatkan kinerja yang moderat sepanjang 2026, namun sebagian besar mampu bertahan lebih baik dibandingkan benchmark-nya, yaitu indeks Bloomberg US Agg Bond Total Return.
Pendekatan 8 Manajer Investasi Obligasi Terkemuka
Meskipun harga obligasi berfluktuasi, tingkat imbal hasil awal yang lebih tinggi dibanding periode 2022 memberikan pendapatan kupon yang dapat menahan penurunan nilai portofolio. Berikut adalah pendekatan yang diambil oleh delapan pengelola dana obligasi terkemuka:
- Vanguard (Arvind Narayan): Berfokus pada obligasi berjangka pendek berkualitas tinggi dengan imbal hasil menarik. Portofolio diarahkan pada obligasi korporasi layak investasi (investment grade), efek beragun aset (asset-backed securities), serta efek beragun hipotek lembaga pemerintah.
- PIMCO (Dan Ivascyn): Menambah kepemilikan pada efek beragun aset dan hipotek perumahan, sambil menganggap obligasi korporasi saat ini terlalu mahal. Peluang juga dilihat pada US Treasury tenor panjang, dengan apresiasi terhadap komitmen bank sentral mengendalikan inflasi.
- PGIM Credit (Greg Peters): Menerapkan seleksi instrumen yang ketat dan manajemen risiko disiplin. Kenaikan imbal hasil dari penerbitan utang terkait AI dinilai belum cukup menarik.
- Fidelity Investments (Julian Potenza): Memprioritaskan instrumen jangka pendek berkualitas tinggi dan menjaga risiko kredit di batas bawah kisaran historis. Sangat selektif terhadap penerbitan utang dari perusahaan penyedia infrastruktur AI (hyperscalers).
- Capital Group (Pramod Atluri): Mengambil langkah kontra-tren secara bertahap dengan memanfaatkan imbal hasil tinggi pada US Treasury tenor panjang. Peluang diraih dari penerbitan utang korporasi AI terbaik dengan harga setara BBB.
- JPMorgan Asset Management (Ed Fitzpatrick): Meningkatkan alokasi pada instrumen investment grade dan kredit tersekuritisasi. Menanti tingkat imbal hasil lebih tinggi sebelum masuk ke dalam transaksi surat utang AI jumbo.
- BlackRock (Russell Brownback): Menilai imbal hasil tinggi memberikan daya tahan terhadap fluktuasi harga harian. Memilih produk sekuritisasi dan hipotek pilihan, sambil menghindari aset berisiko tinggi (subprime) dan high-yield kualitas rendah.
- Baird Asset Management (Warren Pierson): Mengambil pendekatan konservatif dengan mengurangi porsi US Treasury jangka panjang. Mengalihkan investasi ke surat utang korporasi jangka pendek, hipotek non-lembaga pilihan, serta aset tersekuritisasi berperingkat AAA.
Pasar obligasi global mengalami penyesuaian struktural sejak kenaikan suku bunga acuan global pada 2022. Tingginya tingkat imbal hasil awal pada 2026 memberikan perlindungan arus kas (carry) yang lebih kuat bagi investor obligasi. Namun, ekspansi agresif pembiayaan infrastruktur AI melalui surat utang memaksa manajer investasi ekstra cermat dalam menilai kriteria risiko kredit.
Ikuti DailyFX.ID
