DailyFX.ID — Penerapan praktik budi daya pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) berpotensi mendongkrak produktivitas tandan buah segar (TBS) sawit milik pekebun rakyat. Peningkatan ini dapat dicapai melalui penggunaan benih unggul, pemupukan yang tepat, pengendalian gulma yang efisien, serta pemeliharaan tanaman yang optimal.
Saat ini, produktivitas TBS para pekebun rakyat rata-rata masih berkisar 20 ton per hektare per tahun. Dengan implementasi GAP secara benar, angka ini diharapkan dapat meningkat menjadi 30 ton per hektare per tahun. Oleh karena itu, pembekalan mengenai teknis budi daya sawit sesuai GAP bagi para pekebun rakyat di Indonesia perlu diintensifkan.
Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Idum Satia Santi menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas sawit tidak selalu membutuhkan tambahan biaya. Melalui penerapan GAP secara benar, pekebun sawit rakyat dapat mengoptimalkan penggunaan pupuk, tenaga kerja, dan sarana produksi untuk meningkatkan hasil kebun secara efisien.
“Efisiensi budi daya menjadi salah satu kunci meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keuntungan usaha sawit. Penggunaan pupuk yang tepat, pengendalian gulma, serta pemeliharaan tanaman sesuai GAP dapat menekan biaya tanpa mengurangi hasil,” ungkap Idum Satia dalam keterangan tertulis, Minggu (09/08/2026).
Upaya mengurangi biaya produksi sekaligus mendongkrak hasil produktivitas para pekebun sawit tersebut menjadi fokus Pelatihan Teknis Budi Daya Kelapa Sawit yang diikuti 298 pekebun Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Pelatihan ini diselenggarakan di Balikpapan pada 2-7 Agustus 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan AKPY. Program ini mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.
“AKPY, BPDP, dan Ditjen Perkebunan membekali 298 pekebun Paser tentang penerapan GAP untuk mendongkrak produktivitas sekaligus mengurangi biaya produksi sawit,” tutur Idum Satia.
Idum Satia menambahkan, pengalaman para pekebun sawit perlu diperkuat dengan pengetahuan dan hasil penelitian agar setiap input produksi dapat digunakan secara tepat. “Para petani atau pekebun perlu memahami mengapa harus menggunakan benih unggul, bagaimana pemupukan yang benar, hingga pentingnya menjaga kesehatan tanah,” ujarnya di Balikpapan pada 3 Agustus 2026.
Selama pelatihan, para peserta mendapatkan materi komprehensif mengenai pemilihan benih sawit unggul, pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik, pengendalian gulma dan organisme pengganggu tanaman (OPT), penggunaan pestisida secara bijak, serta teknik pemeliharaan tanaman.
AKPY berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan, melainkan dapat diterapkan langsung di kebun masing-masing. Tujuannya adalah menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. “Kuncinya bukan sekadar menambah input, tetapi mengelola kebun secara lebih tepat, efisien, dan berbasis pengetahuan,” papar Idum Satia.
Target Produktivitas 30 Ton per Hektare
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, menyatakan bahwa produktivitas sawit rakyat di Paser saat ini masih di bawah 20 ton TBS per hektare per tahun. Angka ini sangat mungkin ditingkatkan hingga lebih dari 30 ton per hektare per tahun melalui penerapan teknik budi daya yang tepat dan konsisten.
“Target kita minimal produktivitas kebun sawit rakyat bisa mencapai 30 ton per hektare per tahun. Ilmu yang diperoleh dari pelatihan tersebut harus diterapkan ketika kembali ke kebun masing-masing,” tegas Djoko Bawono.
Selain pembelajaran di kelas, peserta pelatihan juga berkesempatan mengikuti praktik lapangan dan kunjungan ke PT Waru Kaltim Plantation (WKP) serta PT Sukses Tani Nusasubur (STN) yang merupakan unit usaha Astra Agro Lestari. Kunjungan ini memungkinkan para pekebun melihat langsung penerapan budi daya, pemupukan, dan pemeliharaan kebun yang berorientasi pada peningkatan produktivitas dan efisiensi.
Pelatihan ini dilaksanakan dalam 10 kelas dan merupakan kelanjutan dari lima kelas pelatihan panen dan pascapanen sebelumnya. Secara keseluruhan, 556 pekebun dari Kabupaten Paser telah mengikuti rangkaian penguatan kompetensi melalui program yang didukung oleh BPDP dan Ditjen Perkebunan Kementan.
Ikuti DailyFX.ID
