— JAKARTA – Tren Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan ketinggalan momen kini mulai ditantang oleh konsep Joy of Missing Out (JOMO). Generasi muda mulai mengadopsi pola pikir ini untuk membuat keputusan yang lebih sadar, termasuk dalam urusan investasi.

JOMO menggambarkan sikap seseorang yang merasa nyaman untuk mengambil jeda dari tren atau tekanan sosial, serta memilih hal yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan nilai personal. Konsep ini berbeda dengan FOMO yang cenderung mendorong seseorang mengikuti tren karena khawatir tertinggal.

Perubahan pola pikir ini juga mulai terasa dampaknya dalam pengambilan keputusan finansial. Di tengah derasnya informasi investasi yang berseliweran di media sosial, tidak semua instrumen yang sedang ramai otomatis cocok untuk setiap investor.

Direktur PT Insight Investments Management (PT IIM), Ria M Warganda, menyatakan bahwa JOMO dapat menjadi perspektif berharga untuk membangun perilaku finansial yang lebih bijak, khususnya bagi generasi muda.

“JOMO atau Joy of Missing Out menunjukkan adanya perubahan cara generasi muda memandang tren. Mereka mulai merasa tidak harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai untuk mendapatkan pengalaman atau merasa diterima. Dalam konteks keuangan, pola pikir ini dapat menjadi hal yang positif karena mendorong seseorang untuk lebih selektif dalam menentukan ke mana uangnya akan dialokasikan,” ujar Ria dalam keterangan pers, Jumat (25/9/2026).

Menurut Ria, kemudahan akses informasi dan platform investasi membuat generasi muda semakin mudah mengetahui instrumen yang sedang populer. Namun, popularitas semata tidak selalu berarti sesuai dengan kebutuhan dan profil risiko seorang investor.

“Tidak semua instrumen yang sedang populer harus diikuti. Kita perlu memiliki kesadaran untuk berhenti sejenak, memahami karakteristik dan risikonya, kemudian menilai apakah investasi tersebut memang sesuai dengan tujuan keuangan,” jelasnya.

FOMO Minggir Dulu

Ria menambahkan, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui mindful investing, yaitu mengambil keputusan secara sadar dan tidak reaktif terhadap tren. Investor perlu memahami tujuan investasi, profil risiko, jangka waktu, serta karakteristik produk sebelum menempatkan dana.

Ria menegaskan, mindful investing bukan berarti menghindari peluang. Sebaliknya, pendekatan ini membantu investor membedakan peluang yang relevan dengan keputusan yang hanya didorong oleh FOMO.

“Investasi seharusnya menjadi kebiasaan, bukan perlombaan. Tidak apa-apa melewatkan tren ketika kita tahu bahwa investasi tersebut belum tentu sesuai dengan tujuan dan profil risiko kita,” tutur Ria.

Prinsip yang sama juga berlaku ketika memilih reksa dana. Investor perlu menyesuaikan produk dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko, bukan semata-mata mengejar imbal hasil atau mengikuti produk yang sedang populer.

Salah satu contoh produk yang bisa dipertimbangkan adalah Reksa Dana Insight Money (I-Money), yang ditujukan bagi investor dengan profil risiko konservatif dan jangka waktu pendek hingga menengah.

Berdasarkan Fund Fact Sheet Insight per 31 Agustus 2026, I-Money mencatat kinerja 3,29% secara year to date (YTD), 5,20% dalam satu tahun, 30,76% dalam lima tahun, dan 94,71% sejak diluncurkan. Sementara itu, benchmark Infovesta Money Market Fund Index masing-masing mencatat 2,65%, 4,20%, 21,72%, dan 59,78%.

Perlu diingat, kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Investor tetap perlu membaca dan memahami prospektus serta Fund Fact Sheet sebelum mengambil keputusan investasi.

Pada akhirnya, tidak mengikuti tren bukan berarti kehilangan peluang. Memberikan jeda justru memberi ruang untuk memahami risiko dan memastikan keputusan investasi sesuai dengan tujuan finansial. Akses investasi reksa dana secara digital juga semakin terbuka melalui InvestasiIN.