DailyFX.ID — JAKARTA – Grup Djarum, melalui salah satu entitas anaknya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), telah resmi meningkatkan kepemilikannya di PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Langkah ini ditandai dengan konversi kepemilikan obligasi menjadi 10,86% saham di BTEL.
Masuknya Protelindo ke dalam struktur kepemilikan BTEL ini menjadi gebrakan awal dari Grup Djarum. Hal ini sekaligus membuka peluang bagi terbentuknya sinergi bisnis antara dua konglomerat besar Indonesia di sektor telekomunikasi dan teknologi.
Protelindo sendiri merupakan perusahaan yang sahamnya 99,9997% dimiliki oleh PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), sebuah perusahaan menara telekomunikasi yang terafiliasi kuat dengan Grup Djarum.
Dalam laporan resmi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (25/8/2026), Manajemen Protelindo menyatakan bahwa pada 20 Agustus 2026, perseroan telah menerima hasil konversi sejumlah 4.846.785.385 lembar Obligasi Wajib Konversi (OWK) menjadi saham BTEL, yang setara dengan 10,86% kepemilikan.
Transformasi BTEL dari operator CDMA menjadi perusahaan yang berfokus pada sektor Telecommunications, Media & Technology (TMT) kini semakin berpotensi berkembang dengan masuknya Protelindo. Pengalaman Grup Djarum yang telah mapan di bisnis menara dan infrastruktur telekomunikasi dapat membuka pintu kerja sama yang lebih luas.
Potensi sinergi tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari infrastruktur telekomunikasi, konektivitas korporasi, teknologi informasi, Internet of Things (IoT), pusat data (data center), hingga layanan digital.
Aksi Lanjutan Grup Djarum
Langkah selanjutnya dari Grup Djarum setelah memperoleh kepemilikan saham ini akan menjadi penentu arah perkembangan bisnis di BTEL. Indikator seperti penambahan saham, keterlibatan dalam manajemen, pembentukan kerja sama strategis, hingga pemanfaatan ekosistem bisnis Djarum, akan memberikan gambaran mengenai potensi integrasi bisnis yang lebih besar di BTEL.
Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai bahwa kepemilikan 10,86% oleh Protelindo lebih dari sekadar investasi finansial biasa, mengingat posisi Protelindo sebagai pemain besar di infrastruktur telekomunikasi. Menurutnya, langkah ini lebih tepat dilihat sebagai strategic entry yang membuka opsi sinergi, bukan sebagai indikasi pengambilalihan BTEL oleh Djarum.
“Konversi OWK pada dasarnya juga merupakan bagian dari proses restrukturisasi BTEL, sehingga perlu dilihat apakah setelah menjadi pemegang saham, Protelindo akan mengambil peran lebih aktif dalam pengembangan bisnis dan tata kelola perseroan,” ujar Nafan kepada Investor Daily, Senin (25/8/2026).
Nafan menambahkan, peluang langkah strategis Djarum sangat terbuka melalui bisnis infrastruktur telekomunikasi, enterprise connectivity, layanan TI terkelola (IT managed services), IoT, data center, serta layanan digital. Pengalaman Grup Djarum di bisnis menara dan infrastruktur dinilai dapat memperkuat akses BTEL terhadap ekosistem, pelanggan, teknologi, dan efisiensi operasional.
Oleh karena itu, Nafan menyarankan agar investor mencermati aksi lanjutan Protelindo. Penambahan kepemilikan saham, masuknya perwakilan Protelindo ke dalam jajaran manajemen, pemberian hak strategis, atau munculnya transaksi bisnis antara BTEL dan entitas Grup Djarum, akan menjadi sinyal yang lebih kuat mengenai arah langkah Djarum di BTEL. “Jika beberapa indikator tersebut terjadi secara bersamaan, barulah probabilitas menuju integrasi bisnis yang lebih besar menjadi semakin kuat,” tuturnya.
Muhammad Wafi, Head of Research KISI, berpendapat bahwa kepemilikan sekitar 10% melalui OWK masih terlalu kecil untuk dikategorikan sebagai strategic control move. Posisi ini lebih mencerminkan investasi finansial dengan optionality, sementara kepemilikan di atas 20% biasanya dibutuhkan untuk memberikan significant influence secara formal.
Meskipun demikian, Wafi melihat masuknya Grup Djarum dapat menjadi validasi positif terhadap prospek pembalikan arah kinerja BTEL. Ia menilai, rekam jejak Grup Djarum sebagai smart money yang berinvestasi berdasarkan genuine value thesis membuat langkah ini menarik untuk dicermati, terutama setelah BTEL menunjukkan perbaikan kinerja.
Wafi juga tidak menutup kemungkinan Grup Djarum akan menambah kepemilikannya, mengingat pola investasi grup tersebut di sektor lain. Namun, tanpa sinyal resmi atau aksi korporasi lanjutan, kemungkinan ini masih bersifat spekulatif. “Full integration adalah skenario lebih jauh, butuh pembuktian konkret melalui aksi korporasi lanjutan,” jelasnya.
Potensi Integrasi Bisnis
Sukarno Alatas, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, menyatakan bahwa ekosistem Grup Djarum dapat membuka peluang bagi BTEL melalui akses pelanggan, jaringan, teknologi, kontrak baru, dan efisiensi. Menurutnya, arah investasi Djarum akan menjadi lebih jelas jika kepemilikan tersebut diikuti oleh integrasi bisnis.
“Jika terjadi, persepsi pasar dapat bergeser dari investasi finansial menjadi langkah strategis yang lebih besar,” ujar Sukarno.
Di sisi BTEL, ruang sinergi semakin terbuka lebar setelah perseroan bertransformasi menjadi pemain TMT. Manajemen BTEL menyebutkan bahwa grup ini kini mengelola delapan pilar bisnis, meliputi telekomunikasi korporat, layanan TI dan engineering, IT managed services, peralatan siaran (broadcast equipment), layanan produksi konten (content production services), multiplexing, serta agensi media digital (digital media agency).
BTEL juga telah menyiapkan tiga fokus pertumbuhan utama. Pertama, memperkuat layanan bagi pelanggan eksisting. Kedua, memperluas basis pelanggan terutama di segmen B2B (Business-to-Business) dan B2G (Business-to-Government). Ketiga, membangun kemitraan strategis di sektor IoT, telekomunikasi, media konten, serta produksi video dan audio.
Transformasi ini mulai menunjukkan hasil positif dari sisi kinerja. Pada periode Januari-September 2025 (9M25), pendapatan BTEL mencapai Rp85,9 miliar, mengalami penurunan 12,8% secara tahunan (yoy). Namun, gross profit margin meningkat signifikan dari 45,7% menjadi 55,6%. Selain itu, EBITDA margin juga melonjak dari 7,9% menjadi 22,1%. Perseroan juga berhasil mencatat laba bersih positif sebesar Rp1 miliar setelah tidak lagi dibebani oleh biaya bunga.
Ikuti DailyFX.ID
