DailyFX.ID — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Tekanan datang dari pelemahan harga minyak dunia dan minyak nabati pesaing, termasuk minyak kedelai.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO pengiriman Oktober 2026 turun 14 Ringgit Malaysia menjadi 4.698 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak November 2026 terpangkas 32 Ringgit Malaysia menjadi 4.800 Ringgit Malaysia per ton.
Pelemahan juga terjadi pada kontrak Desember 2026 sebesar 38 Ringgit Malaysia menjadi 4.898 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Januari 2027 jatuh 45 Ringgit Malaysia menjadi 4.983 Ringgit Malaysia per ton.
Hal serupa juga terjadi pada kontrak Februari 2027 yang anjlok 54 Ringgit Malaysia menjadi 5.054 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Maret 2027 melemah 56 Ringgit Malaysia menjadi 5.113 Ringgit Malaysia per ton.
Meskipun melemah pada perdagangan terakhir pekan ini, kontrak tersebut masih membukukan kenaikan 1,74% dalam sepekan. “FCPO futures remained in negative territory, mirroring selling pressure across the broader commodity complex during Asian trading hours,” ujar seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur.
Minyak Nabati Tertekan
Tekanan juga terlihat dari pasar minyak nabati pesaing. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 1,57%, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian melemah 2,14%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga turun 0,77%. CPO bersaing dengan minyak nabati lainnya untuk memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Pelaku pasar juga mencermati pengumuman resmi pemerintah India terkait potensi penurunan tarif impor. Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi permintaan CPO Malaysia.
Di pasar energi, harga minyak dunia turun 2% pada Jumat dan memperpanjang pelemahan untuk sesi ketiga berturut-turut. Penurunan terjadi setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak Arab Saudi mulai mereda.
Harga minyak mentah yang lebih rendah membuat CPO menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Produksi dan Penguatan Ringgit Jadi Beban
Dari sisi pasokan, produksi CPO di Kalimantan, salah satu wilayah penghasil utama Indonesia, diperkirakan turun 12%-15% pada kuartal IV 2026. Penurunan tersebut dipicu cuaca kering berkepanjangan dan kebakaran yang melanda sejumlah perkebunan.
Namun, penguatan Ringgit Malaysia turut memberikan tekanan terhadap harga CPO. Mata uang tersebut menguat 0,49% terhadap dolar AS sehingga membuat komoditas yang diperdagangkan dalam Ringgit Malaysia menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Ikuti DailyFX.ID
