DailyFX.ID — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mayoritas ditutup menguat pada perdagangan Kamis (24/9/2026), mengakhiri tren pelemahan selama lima hari berturut-turut. Penguatan ini didorong oleh beberapa sentimen positif, termasuk pelemahan nilai tukar ringgit, kenaikan harga minyak nabati di pasar Dalian, serta keputusan India untuk memangkas bea masuk minyak nabati.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman Oktober 2026 tercatat turun 37 Ringgit Malaysia menjadi 4.564 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak November 2026 melemah 12 Ringgit Malaysia menjadi 4.673 Ringgit Malaysia per ton. Namun, kontrak CPO Desember 2026 menunjukkan kenaikan sebesar 4 Ringgit Malaysia menjadi 4.772 Ringgit Malaysia per ton.
Tren kenaikan berlanjut pada kontrak-kontrak berikutnya. Kontrak Januari 2027 meningkat 19 Ringgit Malaysia menjadi 4.870 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Februari 2027 melesat 34 Ringgit Malaysia menjadi 4.963 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Maret 2027 terkerek 43 Ringgit Malaysia menjadi 5.040 Ringgit Malaysia per ton.
Penguatan harga CPO ini juga ditopang oleh kebijakan India yang memangkas bea masuk dasar untuk minyak nabati mentah dan olahan. Langkah ini diambil menjelang musim festival September-November dengan tujuan membantu menekan inflasi pangan domestik.
Dari sisi pasokan, sentimen positif bagi CPO juga datang dari potensi gangguan produksi di Indonesia. Sebagai salah satu pemasok utama dunia, Indonesia diperkirakan akan menghadapi musim hujan yang lebih singkat dari biasanya mulai November, yang berpotensi memengaruhi volume produksi.
CPO Hadapi Hambatan Kenaikan
Meskipun demikian, kenaikan harga CPO masih menghadapi sejumlah hambatan signifikan. Stok minyak sawit Malaysia diperkirakan akan meningkat seiring dengan lonjakan produksi, terutama di wilayah Sabah. Sebuah perusahaan pialang memperkirakan stok akhir CPO Malaysia dapat mencapai sekitar 3 juta ton atau sedikit lebih tinggi pada akhir September.
Kondisi ini mencerminkan potensi peningkatan pasokan yang dapat membatasi ruang penguatan harga lebih lanjut. Di sisi ekspor, pengiriman CPO Malaysia juga dilaporkan masih lesu. Data dari surveyor kargo menunjukkan ekspor selama periode 1-20 September 2026 mengalami penurunan antara 12,8% hingga 24,7% dibandingkan periode sebelumnya.
Sentimen dari pasar energi juga turut menjadi perhatian. Pelemahan harga minyak mentah, yang dipicu oleh perbaikan pasokan dari kawasan Teluk, menjadi faktor yang membatasi penguatan harga CPO. Pergerakan harga minyak mentah menjadi penting bagi pasar CPO karena minyak sawit seringkali bersaing dengan minyak nabati lain serta bahan bakar berbasis minyak dalam berbagai aplikasi penggunaannya.
Ikuti DailyFX.ID
