DailyFX.ID — Harga emas mengalami penurunan hingga berada di bawah US$ 4.300 per troy ounce. Pelemahan ini dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan suku bunga Federal Reserve, serta imbal hasil obligasi yang tinggi, yang secara tradisional menekan logam mulia.
Namun, analis dari BMO Capital Markets tidak melihat tren penurunan saat ini sebagai periode pelemahan, melainkan sebagai indikasi ketahanan dari emas. Sejak pertemuan Federal Reserve, dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun terpantau meningkat secara signifikan. Kondisi ini biasanya membuat investasi yang tidak menghasilkan bunga seperti emas menjadi kurang menarik.
Akan tetapi, BMO Capital Markets mencatat bahwa setelah penurunan yang terjadi menjelang kenaikan suku bunga, emas justru diperdagangkan relatif stabil. Pergerakannya tertahan di kisaran US$ 4.300 hingga US$ 4.400 per troy ounce.
Bank investasi asal Kanada tersebut secara khusus memandang stabilitas ini sebagai sinyal bahwa hubungan tradisional antara emas dan imbal hasil obligasi terus melemah. Hal ini menunjukkan adanya faktor-faktor lain yang mulai memengaruhi pergerakan harga emas.
Di sisi lain, BMO Capital Markets juga mengantisipasi adanya penurunan harga emas dalam jangka pendek. Prediksi ini didasarkan pada kebijakan moneter global yang diperkirakan akan menjadi semakin restriktif.
Bank tersebut telah merevisi perkiraan rata-rata harga emas menjadi sekitar US$ 4.625 per troy ounce untuk paruh kedua tahun 2026. Meskipun demikian, BMO tetap memperkirakan harga emas akan kembali menunjukkan penguatan dan menembus level di atas US$ 5.000 per troy ounce pada kuartal pertama tahun 2027.
BMO membeberkan sejumlah tren yang diprediksi akan menjadi pendukung harga emas di masa mendatang. Salah satunya adalah arus masuk dana ke ETF berbasis emas yang mencapai US$ 4,2 miliar secara global pada pekan lalu. Selain itu, permintaan emas juga diprediksi tetap kuat di negara-negara dengan konsumen emas terbesar di dunia, yaitu China dan India.
Ikuti DailyFX.ID
