DailyFX.ID — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup menguat pada perdagangan Senin (14/9/2026). Penguatan ini ditopang oleh kenaikan harga minyak mentah dunia dan aksi beli kembali (bargain hunting) setelah CPO sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman Oktober 2026 tercatat naik 47 Ringgit Malaysia menjadi 4.717 ringgit Malaysia per ton. Kontrak November 2026 terkerek 36 ringgit Malaysia menjadi 4.850 ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Desember 2026 naik 14 ringgit Malaysia menjadi 4.958 ringgit Malaysia per ton.
Pergerakan positif tersebut terjadi setelah harga CPO sempat mengalami tekanan. Aksi bargain hunting mulai muncul setelah harga komoditas ini menyentuh level terendah dalam dua pekan, menurut data dari Trading Economics.
Faktor pendukung lainnya adalah kenaikan harga minyak mentah. Penguatan harga minyak, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, membuat CPO menjadi lebih kompetitif sebagai bahan baku alternatif untuk produksi biodiesel.
Namun, kekhawatiran terhadap pasokan CPO masih membayangi pasar. Kondisi cuaca yang lebih kering dari biasanya serta berkurangnya penggunaan pupuk di Indonesia dan Malaysia meningkatkan risiko terhadap potensi produksi di masa mendatang.
Kenaikan CPO Tertahan oleh Data Stok
Meskipun ada sentimen positif dari harga minyak mentah, ruang kenaikan harga CPO masih terbatas oleh data bulanan dari Malaysia Palm Oil Board (MPOB) yang cenderung bearish. Persediaan minyak sawit Malaysia pada Agustus 2026 dilaporkan melonjak 7,5% menjadi 2,82 juta ton, level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Dalam periode yang sama, produksi minyak sawit Malaysia hanya mengalami peningkatan tipis sebesar 1,4% menjadi 1,82 juta ton. Sementara itu, ekspor minyak sawit Malaysia justru mengalami penurunan signifikan sebesar 7,5% menjadi 1,29 juta ton.
Tekanan dari sisi ekspor juga masih terlihat pada awal September. Data dari surveyor kargo menunjukkan bahwa pengiriman CPO Malaysia dalam 10 hari pertama September turun antara 11,7% hingga 17,5% dibandingkan dengan periode yang sama di bulan Agustus.
Pasar juga tengah mencermati data aktivitas ekonomi China yang dijadwalkan rilis pekan ini. Investor akan menunggu sinyal mengenai kekuatan permintaan dari China, yang merupakan salah satu konsumen utama minyak sawit dunia, untuk melihat dampaknya terhadap pasar CPO global.
Ikuti DailyFX.ID
