DailyFX.ID — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Pelemahan ini disebabkan oleh dua faktor utama: penurunan harga minyak kedelai dan laju ekspor yang masih lesu.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman Oktober 2026 tercatat turun 29 Ringgit Malaysia menjadi 4.712 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak November 2026 juga terpangkas 52 Ringgit Malaysia menjadi 4.832 Ringgit Malaysia per ton. Pelemahan serupa terjadi pada kontrak Desember 2026 yang turun 62 Ringgit Malaysia menjadi 4.936 Ringgit Malaysia per ton, serta kontrak Januari 2027 yang jatuh 58 Ringgit Malaysia menjadi 5.028 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Februari 2027 melemah 44 Ringgit Malaysia menjadi 5.108 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Maret 2027 turun 32 Ringgit Malaysia menjadi 5.169 Ringgit Malaysia per ton.
Dikutip dari Bernama, harga CPO tertekan oleh pelemahan harga minyak kedelai. Laju ekspor yang masih lambat turut membebani sentimen pasar komoditas ini.
David Ng, proprietary trader Iceberg X Sdn Bhd, memperkirakan harga CPO masih memiliki potensi untuk bertahan di atas level 4.900 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, level 5.080 Ringgit Malaysia diidentifikasi sebagai area resistensi. “Kami melihat harga berada di support 4.900 Ringgit Malaysia per ton dan resistance di 5.080 Ringgit Malaysia per ton,” ujar Ng kepada Bernama.
Tekanan terhadap CPO terjadi di tengah pasar yang masih mencermati pergerakan minyak nabati lainnya, terutama minyak kedelai. Minyak kedelai merupakan salah satu komoditas substitusi CPO. Penurunan harga minyak kedelai dapat mengurangi daya tarik CPO di pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, laju ekspor CPO yang belum menunjukkan penguatan signifikan turut membatasi sentimen pasar. Kondisi ini membuat ruang kenaikan harga CPO menjadi lebih terbatas.
Ikuti DailyFX.ID
