DailyFX.ID — Harga minyak mentah mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Kenaikan ini dipicu oleh ketidakpastian seputar kesepakatan yang diharapkan dapat mengakhiri perang Iran dan membuka kembali Selat Hormuz, yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman selanjutnya tercatat naik US$1,06 atau 1,3% menjadi US$83,55 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 89 sen atau 1,15% mencapai US$78,18 per barel.
Lonjakan harga ini melanjutkan kenaikan tajam pada hari sebelumnya, di mana harga minyak sempat melonjak lebih dari US$3 per barel. Ketegangan meningkat setelah Iran dikabarkan tengah meninjau rancangan aturan yang dapat melarang kapal berbendera Amerika Serikat dan Israel melintasi Selat Hormuz.
Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, merupakan jalur perdagangan energi yang krusial. Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati jalur strategis ini.
Meskipun demikian, secara keseluruhan, harga minyak masih berada di bawah tekanan selama sepekan terakhir. Brent diprediksi akan mencatat penurunan lebih dari 8% dalam sepekan, sementara WTI berpotensi turun lebih dari 7%.
Pergerakan harga minyak sepanjang pekan ini menunjukkan volatilitas yang tinggi, seiring dengan berfluktuasinya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik Iran.
Vandana Hari, pendiri Vanda Insights, sebuah firma analisis pasar minyak, menyatakan bahwa pasar masih belum memiliki kepastian mengenai persyaratan yang harus dipenuhi untuk mewujudkan kesepakatan tersebut. “Pasar masih belum mengetahui secara pasti persyaratan yang harus dipenuhi agar kesepakatan tersebut dapat terwujud,” ujarnya.
Menanggapi hal ini, Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates, mengungkapkan bahwa pelaku pasar masih mempertanyakan apakah kesepakatan antara Iran dan Oman nantinya akan memungkinkan kapal berbendera AS untuk melintasi Selat Hormuz. Pertanyaan serupa juga muncul terkait kapal yang dimiliki oleh perusahaan AS atau kapal yang mengangkut muatan menuju pelabuhan AS.
Iran dan Oman dilaporkan telah menyepakati rute yang akan digunakan oleh kapal untuk melintasi selat tersebut. Namun, belum ada kejelasan apakah Amerika Serikat akan menyetujui ketentuan yang diajukan. Perkembangan dalam sepekan terakhir juga mengindikasikan bahwa ketegangan antara Iran dan AS belum sepenuhnya mereda.
Risiko Gangguan Pasokan
Ketidakpastian ini menjadi perhatian serius pasar, mengingat semakin lama gangguan pasokan berlangsung, semakin besar pula cadangan komersial minyak dunia yang berpotensi terkuras.
Iran dilaporkan meminta biaya sebesar 5% hingga 7% dari nilai kargo untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz. Oman membahas biaya sekitar 3%, sementara Washington menginginkan tidak ada pungutan sama sekali.
Sejumlah sumber industri juga menilai bahwa rancangan kesepakatan yang ada saat ini masih sulit untuk diterapkan, terutama karena adanya sanksi Amerika Serikat dan ketentuan asuransi yang membatasi pembayaran.
Bjarne Schieldrop dari SEB Research berpendapat bahwa struktur kesepakatan Iran-Oman yang ditawarkan saat ini memberikan pengaruh yang terlalu besar kepada Iran, sehingga berpotensi sulit diterima secara politik oleh Presiden AS Donald Trump. “Struktur kesepakatan Iran-Oman saat ini memberikan pengaruh yang terlalu besar kepada Iran sehingga berpotensi sulit diterima secara politik oleh Presiden AS Donald Trump,” ungkapnya.
John Kilduff, partner di Again Capital, menekankan pentingnya Selat Hormuz untuk dibuka sepenuhnya agar ketidakpastian pasar dapat mereda. Menurutnya, ketidakpastian mengenai hasil perang dan perkiraan waktu berakhirnya konflik masih membuat pelaku pasar minyak tetap sangat waspada.
Ikuti DailyFX.ID
