DailyFX.ID — Harga emas saat ini terjebak di antara dua pengaruh yang saling bertentangan. Di satu sisi, penurunan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) memberikan potensi bagi emas untuk bangkit. Namun, di sisi lain, penguatan dolar AS, kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed), dan tingginya imbal hasil obligasi masih menjadi hambatan signifikan.
Pada Selasa (22/9/2026), harga emas di pasar spot dilaporkan menguat 0,42% mencapai level US$ 4.361,64 per ons troi. Sebelumnya, pada Senin (21/9/2026), harga emas sempat ditutup turun 0,79% ke angka US$ 4.343,73 per ons troi.
Analis Pasar StoneX, Fawad Razaqzada, mengemukakan bahwa emas memulai pekan dengan tekanan setelah sempat mencatatkan kenaikan dalam dua sesi perdagangan sebelumnya. Pemulihan tersebut terjadi seiring terhentinya reli dolar AS dan dimulainya penurunan harga minyak.
“Untuk saat ini, konsolidasi menjadi tema utama. Namun, jika dolar AS, yield obligasi, atau harga minyak kembali bergerak naik, hal tersebut akan berdampak negatif terhadap harga emas,” tulis Razaqzada dalam analisisnya.
Razaqzada mempertahankan pandangan yang berhati-hati terhadap emas karena masih menghadapi sejumlah tekanan. Tekanan utama berasal dari penguatan dolar AS, sikap hawkish The Fed, dan tingginya yield obligasi.
Pasar sempat merasakan sedikit ketenangan dari indikasi bahwa gangguan ekspor minyak dari Timur Tengah dapat dikendalikan. Harapan meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran juga turut meningkatkan selera investor terhadap aset berisiko.
Namun, situasi geopolitik masih sangat dinamis. Ancaman terbaru dari Presiden AS Donald Trump terhadap Iran mengindikasikan bahwa risiko eskalasi konflik belum sepenuhnya hilang.
Kondisi ini menempatkan emas dalam posisi yang sulit, diapit oleh dua kekuatan yang berlawanan. Meredanya ketegangan geopolitik dan membaiknya selera risiko memang memberikan dukungan spekulatif bagi emas, tetapi di saat yang sama mengurangi permintaan terhadap aset safe haven.
“Risiko kembalinya permusuhan mencegah pergerakan yang lebih signifikan ke salah satu arah,” ungkap Razaqzada.
Menurutnya, situasi tersebut membuat perdagangan emas dalam jangka pendek kemungkinan masih akan bergantung pada level-level teknikal, menunggu munculnya katalis fundamental baru.
Dolar AS dan Yield Jadi Ancaman
Razaqzada menjelaskan bahwa penurunan harga minyak sekitar 10% dari puncaknya baru-baru ini telah mengurangi salah satu sumber dukungan penting bagi dolar AS.
Pertanyaan krusial bagi pasar saat ini adalah apakah dolar AS mampu kembali menguat. “Minimnya agenda ekonomi penting pekan ini membuat harga minyak dan perkembangan konflik Timur Tengah menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan arah pasar,” tambah Razaqzada.
Apabila harga minyak kembali menguat, dolar AS dan yield obligasi berpotensi ikut mengalami kenaikan. Kondisi ini akan meningkatkan opportunity cost memegang emas, yang tidak memberikan imbal hasil. Sebaliknya, jika kondisi geopolitik relatif tenang, harga minyak terus menurun, dan yield obligasi kembali turun, emas berpeluang memulihkan sebagian penurunan yang terjadi dalam koreksi terakhir.
Secara teknikal, Razaqzada melihat adanya sinyal positif dari pola falling wedge yang berhasil ditembus. Pola ini memiliki kemiripan dengan pergerakan harga emas sebelum terjadi breakout pada Agustus lalu.
Namun, gambaran jangka panjang masih memerlukan kewaspadaan. Pola lower high dan lower low yang terbentuk sejak puncak pada Januari lalu masih bertahan, sehingga belum ada bukti kuat bahwa tren besar emas telah kembali ke jalur bullish.
Risiko terbesar adalah jika breakout terbaru ini ternyata merupakan sinyal palsu. Jika hal tersebut terjadi, likuidasi posisi beli dapat menyebabkan penurunan yang lebih dalam.
Razaqzada menetapkan level US$ 4.400 sebagai batas kunci yang perlu ditembus oleh emas. Penutupan harian yang meyakinkan di atas level tersebut dinilai penting untuk mengonfirmasi kekuatan kenaikan harga.
“Jika berhasil melewati US$ 4.400, resistance berikutnya berada di sekitar US$ 4.500, kemudian US$ 4.565,” papar Razaqzada.
Sebaliknya, jika emas berbalik arah dan menembus level support US$ 4.235, struktur bullish jangka pendek akan melemah. Penurunan lebih lanjut berpotensi mengarah ke US$ 4.100, dengan US$ 4.000 sebagai target penurunan berikutnya.
Ikuti DailyFX.ID
