— Merdeka finansial atau financial freedom merupakan kondisi ideal ketika seseorang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penghasilan aktif seperti gaji. Kondisi ini tercapai ketika aset produktif yang dimiliki sudah cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan dan gaya hidup sehari-hari. Namun, jumlah modal yang dibutuhkan untuk mencapai kebebasan finansial bersifat individual, sangat bergantung pada besaran pengeluaran bulanan dan imbal hasil dari aset produktif yang dikelola.

Dalam sebuah simulasi yang dilakukan oleh Pluang, seseorang dengan pengeluaran Rp 5 juta per bulan diproyeksikan membutuhkan portofolio aset produktif senilai Rp 1,2 miliar. Perhitungan ini didasarkan pada asumsi imbal hasil dividen sebesar 5% per tahun. Sementara itu, bagi mereka yang memiliki pengeluaran Rp 10 juta per bulan, kebutuhan portofolio akan meningkat menjadi Rp 2,4 miliar dengan asumsi imbal hasil yang sama.

Penting untuk dicatat bahwa nilai investasi atau besaran portofolio bukanlah satu-satunya syarat untuk mencapai merdeka finansial. Pluang menekankan bahwa kondisi ini juga mensyaratkan kebebasan dari utang konsumtif berbunga tinggi serta ketersediaan dana darurat yang memadai.

Tiga Fondasi Utama Merdeka Finansial

Pluang mengidentifikasi tiga fondasi utama yang harus dibangun untuk mencapai kondisi merdeka finansial. Ketiganya adalah kepemilikan aset produktif, terbebas dari utang konsumtif, dan memiliki dana darurat yang kuat.

Aset produktif menjadi fondasi pertama karena tujuannya adalah menghasilkan arus kas secara rutin. Investasi yang baik tidak hanya diharapkan menaikkan nilai aset di atas kertas, tetapi juga memberikan pendapatan pasif yang berkelanjutan.

Syarat kedua adalah bebas dari jeratan utang konsumtif yang berbunga tinggi. Beban bunga dari utang tersebut berpotensi menggerus hasil investasi sebelum keuntungan dari aset sempat berkembang optimal. Hal ini dapat menghambat laju pertumbuhan kekayaan.

Dana darurat juga memegang peranan krusial dalam perencanaan finansial. Adanya bantalan likuiditas yang cukup dapat mencegah investor terpaksa menjual aset jangka panjang ketika kondisi pasar sedang bergejolak atau saat kebutuhan keuangan mendesak muncul. Tanpa dana darurat, tujuan merdeka finansial bisa terancam.

Oleh karena itu, Pluang mengingatkan bahwa merdeka finansial tidak cukup hanya diukur dari besarnya penghasilan pasif yang diterima. Kondisi utang dan kesiapan dana darurat harus dibangun secara bersamaan dan seimbang.

Simulasi Kebutuhan Modal

Dalam simulasi yang disajikan, portofolio aset produktif senilai Rp 1,2 miliar, dengan asumsi imbal hasil 5% per tahun, mampu menghasilkan Rp 60 juta per tahun. Nilai ini setara dengan kebutuhan pengeluaran Rp 5 juta per bulan. Dengan asumsi imbal hasil yang sama, pengeluaran Rp 10 juta per bulan memerlukan portofolio sekitar Rp 2,4 miliar.

Asumsi imbal hasil 5% dalam simulasi ini merujuk pada data historis dan potensi investasi yang ada. Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui indeks IDX High Dividend 20 mencakup 20 perusahaan besar yang secara konsisten membagikan dividen tunai selama tiga tahun berturut-turut. Rata-rata dividend yield konstituen indeks ini secara historis berada di kisaran 5% hingga 7% per tahun, bahkan dalam beberapa laporan tercatat mencapai 6,8%.

Selain saham dividen, kelas aset lain yang dapat dipertimbangkan adalah Surat Berharga Negara (SBN). Penerbitan SBN pada tahun 2026 diprediksi berada di kisaran 5,45%–7%. Contohnya, ORI030 pada Juli 2026 mencatatkan kupon tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Dengan memperhitungkan pajak final 10% atas kupon obligasi, kisaran imbal hasil bersih bagi investor berada di sekitar 4,91%–6,3% per tahun.

Menghitung Target Merdeka Finansial

Untuk memberikan gambaran kebutuhan modal yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, Pluang menggunakan standar pengeluaran yang dirujuk dari Badan Pusat Statistik (BPS). BPS mendefinisikan kelas menengah sebagai kelompok dengan pengeluaran antara 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan.

Berdasarkan rilis BPS pada 5 Agustus 2026, garis kemiskinan per Maret 2026 adalah Rp 669.235 per orang per bulan. Dengan demikian, kisaran pengeluaran kelas menengah berada pada sekitar Rp 2,34 juta hingga Rp 11,38 juta per individu per bulan.

Target merdeka finansial dapat dihitung menggunakan rumus sederhana: (pengeluaran bulanan × 12) ÷ asumsi imbal hasil = target portofolio. Sebagai contoh, pengeluaran Rp 5 juta per bulan atau Rp 60 juta per tahun, dengan asumsi imbal hasil 5%, menghasilkan target portofolio sebesar Rp 1,2 miliar (Rp 60 juta ÷ 0,05).

Investor disarankan untuk mengganti angka pengeluaran bulanan dan asumsi imbal hasil sesuai dengan kondisi finansial pribadi masing-masing. Namun, perhitungan ini harus tetap dilengkapi dengan dua syarat utama lainnya: menyelesaikan utang konsumtif dan menyiapkan dana darurat yang memadai. Tanpa kedua elemen tersebut, target portofolio yang tercapai baru bersifat nominal.

Target portofolio sebesar Rp 1,2 miliar atau lebih mungkin terasa besar bagi sebagian masyarakat. Namun, Pluang menilai bahwa perubahan signifikan dalam satu dekade terakhir bukanlah semata-mata perjalanan menuju merdeka finansial yang semakin pendek, melainkan semakin luasnya akses terhadap berbagai instrumen investasi. Pembangunan kekayaan kini lebih terbuka bagi masyarakat luas, tidak hanya terbatas pada kelompok bermodal besar atau dengan akses finansial yang kuat.

Meskipun demikian, kemampuan masyarakat untuk menyisihkan dana tetap harus ditempatkan dalam konteks kondisi pendapatan dan pekerjaan yang berlaku di Indonesia. Simulasi target portofolio ini memberikan gambaran nilai aset yang dibutuhkan untuk menopang pengeluaran tertentu. Namun, perencanaan merdeka finansial pada akhirnya tetap bergantung pada kondisi pribadi, tingkat pengeluaran, jenis aset produktif yang dipilih, serta realisasi imbal hasil yang diperoleh.

Pluang menekankan bahwa pembangunan portofolio bernilai besar harus berjalan seiring dengan pengelolaan utang yang bijak dan persiapan dana darurat yang matang. Dengan demikian, merdeka finansial bukan hanya sekadar mencapai angka target tertentu, melainkan membangun struktur keuangan yang kokoh untuk menopang kebutuhan hidup tanpa ketergantungan penuh pada satu sumber pendapatan aktif.