— NEW YORK – Indeks-indeks saham utama di Wall Street mengalami kejatuhan tajam pada Rabu (16/9/2026). Penurunan ini terjadi setelah The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa inflasi di Amerika Serikat masih berada pada level yang tinggi dan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.

Menurut laporan CNBC Internasional, Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 631,21 poin atau 1,21% ke angka 51.461,90. Sementara itu, Indeks S&P 500 melemah 0,45% menjadi 7.551,81, dan Nasdaq Composite mengalami penurunan tipis 0,01% ke level 25.978,42.

Sebelum pengumuman keputusan The Fed, ketiga indeks utama Wall Street sempat menunjukkan pergerakan menguat. Namun, tekanan jual melonjak tajam pasca konferensi pers Warsh yang menyampaikan pandangannya mengenai inflasi.

Dalam keputusan yang diambil secara bulat, The Fed menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 3,75%-4%. Ini merupakan kali pertama The Fed menaikkan suku bunga sejak Juli 2023. The Fed juga memberikan sinyal bahwa ada kemungkinan kenaikan suku bunga sekali lagi pada tahun ini. Prospek ini membuat investor kembali mengkalkulasi ulang potensi suku bunga yang bertahan lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Warsh menekankan bahwa tekanan inflasi belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Situasi ini menjadi perhatian utama pasar, mengingat kenaikan suku bunga umumnya akan meningkatkan biaya pinjaman dan berpotensi menekan aktivitas ekonomi.

“Fakta sederhananya adalah inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama,” ujar Warsh dalam konferensi persnya.

Ia menambahkan, data inflasi yang dirilis selama musim panas belum memperlihatkan tanda-tanda perbaikan yang berarti pada tren inflasi mendasar.

Pernyataan tersebut memicu kenaikan kembali imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun yang menembus angka 5%. Kenaikan imbal hasil obligasi memberikan tekanan tambahan pada pasar saham, karena dapat meningkatkan biaya pendanaan sekaligus mengurangi daya tarik aset berisiko.

Pasar Semakin Tertekan

Kepala Strategi Pasar B Riley Wealth, Art Hogan, menilai bahwa keputusan The Fed sebenarnya sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, penegasan Warsh mengenai inflasi membuat investor kembali dibayangi kekhawatiran terhadap prospek suku bunga tinggi yang berkelanjutan.

“Pasar saat ini mengambil petunjuk dari imbal hasil surat utang 10 tahun yang kembali menembus 5%, sebuah level psikologis yang sangat penting,” kata Hogan.

Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi dan kekhawatiran inflasi yang bertahan pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama dapat menjadi hambatan bagi pasar dalam jangka pendek.

Saham-saham perbankan besar juga mengalami tekanan signifikan pasca keputusan The Fed. Saham Bank of America dan Wells Fargo masing-masing turun hampir 3%. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi dapat memperlambat pertumbuhan penyaluran kredit dan perekonomian secara keseluruhan.

Saham American Express dan Goldman Sachs juga terpantau merosot hampir 4%.

Tekanan terhadap ekonomi AS semakin diperparah dengan harga diesel yang mencapai US$6 per galon untuk pertama kalinya pada Jumat, di tengah gangguan pasokan yang dipicu oleh konflik di Ukraina dan Iran. Harga minyak mentah juga dilaporkan masih bertahan di atas US$100 per barel.

Namun, penurunan di indeks Nasdaq berhasil tertahan oleh penguatan saham Intel yang naik 4%. Penguatan saham Intel dilaporkan dipicu oleh kabar bahwa perusahaan tersebut tengah bernegosiasi dengan produsen memori asal Korea Selatan, SK Hynix, untuk membangun fasilitas semikonduktor di Amerika Serikat.