— WASHINGTON – Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) secara resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Kamis (17/9/2026). Keputusan ini menandai kenaikan suku bunga pertama yang dilakukan The Fed sejak Juli 2023.

Langkah ini mengakhiri periode penahanan suku bunga dan membalikkan arah kebijakan moneter AS. Dengan penyesuaian terbaru, kisaran target federal funds rate (FFR) naik menjadi 3,75% hingga 4,00%, dari sebelumnya 3,50% hingga 3,75% sejak Desember 2025.

Keputusan pengetatan ini disetujui secara bulat oleh Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Hal ini merupakan respons terhadap laju inflasi yang kembali memanas, dipicu ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi akibat konflik bersenjata di Iran.

Mengakhiri Tren Suku Bunga Stabil

Sejak terakhir kali menaikkan suku bunga pada pertengahan 2023, The Fed cenderung mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar untuk menstabilkan pertumbuhan ekonomi. Namun, angka inflasi yang bertahan di atas target 2% selama lebih dari lima tahun memaksa otoritas moneter mengubah arah.

Ketua Dewan Gubernur The Fed Kevin Warsh, yang memimpin rapat penentuan kebijakan ketiganya sejak menjabat pada Mei 2026, menegaskan bank sentral tidak punya pilihan selain memperketat aliran likuiditas.

“Fakta sederhananya adalah inflasi saat ini terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama. Data inflasi sepanjang musim panas tidak menunjukkan perbaikan tren yang signifikan. Stabilitas harga merupakan fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” ujar Warsh.

Proyeksi pengetatan ini diprediksi berlanjut. Sebanyak 12 dari 18 pejabat FOMC memperkirakan setidaknya ada satu kali lagi kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase sebelum akhir tahun ini.

Risiko Konsumen dan Gesekan dengan Gedung Putih

Langkah historis The Fed ini berdampak langsung pada sektor riil. Kenaikan suku bunga acuan secara otomatis meningkatkan biaya pinjaman di bank komersial, yang akan membebani masyarakat melalui peningkatan suku bunga KPR, pinjaman kendaraan bermotor, dan bunga kartu kredit.

Di sisi lain, pembalikan arah kebijakan ini mempertegas jarak antara The Fed dan Gedung Putih. Presiden Donald Trump secara terbuka menolak kenaikan suku bunga dan mendesak pemotongan hingga 1% untuk merangsang ekonomi.

Meskipun mendapat tekanan politik, Warsh menegaskan fokus utama bank sentral adalah menjalankan mandatnya untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas harga nasional.

Kebijakan moneter bank sentral bergerak dalam siklus dinamis, berayun antara pengetatan (tightening) untuk menekan inflasi dan pelonggaran (easing) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Saat The Fed menaikkan suku bunga pada Juli 2023, langkah itu adalah puncak dari rangkaian kenaikan paling agresif dalam beberapa dekade untuk meredam inflasi pascapandemi.

Setelah periode tersebut, The Fed memasuki fase penahanan di mana suku bunga dibiarkan stabil untuk memantau dampak pengetatan. Namun ketika guncangan eksternal baru muncul, seperti konflik geopolitik yang mengganggu pasokan energi global, ekspektasi inflasi dapat kembali melonjak.

Pembalikan arah kebijakan dari menahan menjadi menaikkan suku bunga merupakan sinyal kuat bahwa risiko inflasi dinilai lebih berbahaya daripada risiko perlambatan ekonomi. Langkah “pertama sejak 2023” ini mengonfirmasi bahwa siklus pengetatan moneter di Amerika Serikat resmi dimulai kembali.