— Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (16/9/2026), menyusul keputusan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan. Kenaikan suku bunga ini juga disertai sinyal adanya penambahan kebijakan serupa dalam beberapa bulan mendatang.

Keputusan The Fed tersebut mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan secara otomatis menekan daya tarik emas. Emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi kurang menarik bagi investor ketika aset lain menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi.

Harga emas spot tercatat turun 0,7% dan ditutup pada level US$ 4.264,26 per ons troi. Sebelumnya, sempat terjadi lonjakan harga emas yang mencapai lebih dari 1%, bahkan menyentuh US$ 4.365,57 per ons troi. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember mengalami pelemahan 0,7% menjadi US$ 4.302,5 per ons troi.

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin

The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, sehingga kini berada dalam kisaran 3,75-4,00%. Keputusan ini diambil secara bulat oleh para pejabat bank sentral AS.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pernyataannya menegaskan komite kebijakan moneter akan menjaga stabilitas harga. Ia menilai inflasi di AS masih berada pada level yang terlalu tinggi dan belum menunjukkan perbaikan yang berarti.

“Fokus utama kami adalah stabilitas harga dalam mandat kami. Faktanya, inflasi masih terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama. Data inflasi musim panas ini tidak menunjukkan bahwa tren mendasar telah membaik secara berarti,” ujar Warsh.

Pernyataan Bernada Hawkish Memperkuat Ekspektasi Kenaikan Lanjutan

Pelaku pasar menafsirkan pernyataan Warsh sebagai sinyal hawkish, yang mengindikasikan adanya kebijakan moneter yang lebih ketat. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed berpeluang kembali menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan moneter berikutnya.

“Pernyataan Warsh dibaca bernada hawkish, ditambah proyeksi suku bunga yang juga hawkish. Ini memperkuat pandangan bahwa akan ada kenaikan suku bunga tambahan dalam pertemuan mendatang. Kondisi tersebut membantu dolar dan akan menekan logam dalam jangka pendek,” kata pedagang logam independen Tai Wong.

Dolar AS Menguat, Emas dan Komoditas Lain Tertekan

Dolar AS menguat terhadap euro pasca pengumuman The Fed. Penguatan mata uang Paman Sam ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Kenaikan suku bunga juga mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Investor cenderung beralih ke instrumen berbunga yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi ketika suku bunga meningkat.

Tekanan inflasi di AS sendiri masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tarif impor global yang diterapkan Presiden AS Donald Trump, lonjakan harga energi akibat pecahnya perang AS-Israel dengan Iran, serta belanja modal besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI).

Di pasar energi, harga minyak mentah Brent berbalik turun setelah laporan tambahan pengiriman minyak mentah Arab Saudi melalui Oman meredakan kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah. Penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih kecil dari perkiraan juga menambah tekanan terhadap harga minyak.

Sementara itu, harga perak spot turun 1,05% menjadi US$ 63 per ons. Platinum anjlok 1,34% menjadi US$ 1.755,65 per ons, sedangkan paladium ambles 2,29% menjadi US$ 1.275,78 per ons.