— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan bergerak volatil dalam sepekan mendatang. Rentang pergerakan diperkirakan berada di antara 6.350 hingga 6.600. Area 6.350–6.400 menjadi batas bawah atau support penting, sementara 6.500–6.600 menjadi batas atas atau resistance yang perlu ditembus untuk memperkuat momentum kenaikan.

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa IHSG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi. Penutupan IHSG pada Jumat (18/9/2026) di level 6.441, yang melemah 0,3%, terjadi di tengah penguatan mayoritas bursa Asia. Hal ini mengindikasikan tekanan pasar domestik tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Arus dana asing tercatat sebagai salah satu beban utama. Dalam sepekan terakhir, tercatat adanya penjualan bersih atau net sell sekitar Rp 2,9 triliun. Kondisi ini membuat setiap penguatan IHSG berpotensi dimanfaatkan untuk aksi ambil untung atau pelepasan posisi.

“IHSG pekan depan berpotensi bergerak dalam rentang 6.350–6.600, dengan area 6.350–6.400 sebagai support penting dan 6.500–6.600 sebagai resistance,” kata Hendra dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (20/9/2026).

Menurut Hendra, selama IHSG mampu bertahan di atas level 6.350, peluang technical rebound masih terbuka. Namun, jika level tersebut ditembus, ada risiko pelemahan lebih lanjut menuju kisaran 6.200–6.250.

Untuk membuka ruang kenaikan lebih lanjut, IHSG perlu kembali berada di atas 6.500, yang dapat membuka jalan menuju 6.550–6.600. Penembusan level 6.600 dinilai dapat menjadi sinyal positif terhadap perubahan momentum pasar.

Faktor-faktor utama yang terus memengaruhi pasar antara lain kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berada di kisaran Rp 17.758, arus dana asing, serta isu terkait indeks MSCI.

Di sektor komoditas, harga minyak Brent yang berada di kisaran US$ 102,6 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) sekitar US$ 100,08 per barel memberikan sedikit ruang bagi sentimen pasar. Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Rekomendasi Saham dan Target Harga

Hendra merekomendasikan saham PT Aneka Tambang Tbk (INCO) dengan strategi speculative buy dan target harga Rp 5.200. Rekomendasi ini didukung oleh prospek nikel dan ekspektasi hilirisasi.

Saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) direkomendasikan dengan strategi trading buy dan target harga Rp 1.650. Eksposur MAPI terhadap bisnis ritel dan konsumsi dapat menjadi katalis positif apabila sentimen domestik dan ekspektasi terhadap daya beli masyarakat mulai membaik.

Selain itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MBMA) juga direkomendasikan dengan strategi trading buy dan target harga Rp 580. Rekomendasi ini terutama relevan apabila momentum saham-saham berbasis komoditas kembali mendapatkan perhatian investor.

Terakhir, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) turut direkomendasikan dengan strategi trading buy dan target harga Rp 550. Saham ini dipilih karena karakter bisnis menara telekomunikasi yang relatif defensif.

Hendra menilai bahwa kondisi pasar saat ini lebih sesuai untuk strategi selective buying. Investor disarankan memanfaatkan koreksi pada saham yang memiliki katalis kuat daripada mengejar kenaikan harga.