— Arus dana investor asing di pasar saham Indonesia diprediksi akan bergerak mixed hingga cenderung negatif dalam satu hingga tiga bulan mendatang. Meskipun demikian, terdapat potensi munculnya katalis yang dapat membalikkan keadaan pasar.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa tekanan terhadap pasar dapat meningkat apabila The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Kondisi ini berpotensi membuat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun atau US Treasury 10-Year (US10Y) bertahan di atas 5%.

Kenaikan suku bunga oleh The Fed dapat mempercepat arus keluar dana asing dari pasar berkembang. Namun, tingkat tekanan yang terjadi juga akan sangat bergantung pada pergerakan US10Y, indeks dolar AS (DXY), nilai tukar rupiah, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta pertumbuhan laba emiten domestik.

“Dalam 1–3 bulan ke depan, base case saya IHSG masih volatil dan foreign flow cenderung mixed to negative,” ujar Liza dalam catatan risetnya, Minggu (20/9/2026).

Tekanan terhadap pasar dinilai akan mulai terasa lebih serius jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus level Rp 17.700. Kondisi ini bersamaan dengan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang berada di atas 7,3% akan menjadi sinyal negatif.

Untuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), area 6.400–6.370 masih menjadi level penopang penting. Jika area tersebut ditembus, terlebih bersamaan dengan peningkatan penjualan saham oleh investor asing, maka risiko koreksi lebih lanjut menuju level 6.280–6.180 dapat terjadi.

Saham-saham berkapitalisasi besar dan memiliki likuiditas tinggi, yang banyak dimiliki oleh investor asing, diperkirakan menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tekanan ini. Tekanan diperkirakan terutama akan mengenai saham-saham perbankan dan saham lain yang memiliki bobot besar dalam perhitungan IHSG.

Meskipun likuiditas domestik saat ini sudah lebih kuat dan mampu menyerap penjualan asing, kemampuan investor domestik belum tentu cukup untuk menahan IHSG apabila tekanan jual terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Katalis Pembalik Dana Asing

Menurut Liza, pembalikan arus dana asing ke arah positif memerlukan kombinasi beberapa faktor, tidak hanya sekadar penurunan yield global. Kenaikan US10Y yang turun, pelemahan DXY, stabilitas rupiah, valuasi yang menarik, serta pertumbuhan laba emiten menjadi katalis utama yang dinantikan.

Dari sisi domestik, kepercayaan investor terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) dan Menteri Keuangan Suahasil Nazara juga dinilai memegang peranan penting. Selain itu, kejelasan mengenai rencana setoran Rp 120 triliun dari Danantara ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau adanya kebijakan fiskal alternatif juga dapat memengaruhi persepsi investor asing terhadap kebutuhan pembiayaan dan defisit negara.

Liza memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% dengan kecenderungan kebijakan moneter yang tetap ketat. Namun, jika rupiah menembus rentang Rp 17.700–18.000 disertai dengan peningkatan arus keluar dana (outflow) yang signifikan, maka peluang kenaikan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6% akan terbuka lebar.