DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami pelemahan terbatas pada perdagangan Rabu, 16 September 2026. Pada penutupan perdagangan Selasa (15/9/2026), IHSG tercatat melemah 73,54 poin atau 1,13% ke level 6.461. Sektor kesehatan menunjukkan penguatan 0,24%, sementara sektor perindustrian mengalami penurunan 1,56%.
Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya pada Rabu (16/9/2026) menyatakan bahwa secara analisis teknikal, IHSG berpotensi bergerak melemah dalam rentang support dan resistance di level 6.440 hingga 6.600.
Perhatian pelaku pasar global tertuju pada pertemuan The Fed yang sedang berlangsung. Ketidakpastian global, potensi perang antara Amerika Serikat dan Iran, harga minyak yang menembus US$100 per barel, serta inflasi yang diperkirakan terus meningkat, ditambah imbal hasil obligasi US Treasury 10y yang melampaui 5% menjadi 5,04%, memberikan tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga acuannya.
Jika The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga, pelaku pasar diperkirakan akan menuntut imbal hasil obligasi US Treasury yang lebih tinggi. Di sisi lain, Amerika Serikat dan Tiongkok tengah berdiskusi mengenai pengurangan tarif pada beberapa jenis barang, termasuk energi dan produk pertanian dari Amerika. Meskipun kesepakatan ini bersifat terbatas, potensi perdagangan bilateral tersebut dapat memberikan dampak lebih dari US$400 miliar dalam delapan bulan pertama tahun ini.
Pilarmas Investindo Sekuritas meyakini adanya harapan baru terkait potensi perpanjangan gencatan senjata dagang selama satu tahun lagi. Pelaku pasar diperkirakan akan cenderung bersikap wait and see menanti hasil pertemuan The Fed.
Faktor lain yang memengaruhi pasar adalah biaya pengiriman minyak mentah AS ke Asia yang mencapai rekor tertinggi akibat peningkatan kebutuhan energi dan gangguan pasokan dari Timur Tengah. Sementara itu, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per Juli 2026 tercatat sebesar US$453,4 miliar, mengalami pertumbuhan 4,9% year-on-year (YoY). ULN publik mencapai US$218,4 miliar (3,2%) dan ULN swasta sebesar US$194,6 miliar (1,2%).
ULN pemerintah sebagian besar dialokasikan untuk sektor kesehatan, administrasi, pendidikan, konstruksi, dan transportasi, dengan dominasi utang jangka panjang. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di angka 30,7%. Bank Indonesia menilai struktur utang Indonesia tetap sehat dan terkendali.
“Kami menilai kenaikan ULN Indonesia terutama dari sektor publik masih relatif terkendali karena didominasi utang jangka panjang dan digunakan untuk pembiayaan sektor produktif,” ujar pihak Pilarmas. Namun, peningkatan biaya pengiriman minyak AS ke Asia akibat gangguan pasokan Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan biaya energi dan impor, yang dapat berdampak pada neraca eksternal dan kebutuhan pembiayaan.
Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) atau yang sebelumnya disebut DSSA, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) atau sebelumnya CMRY, dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) atau sebelumnya AMRT untuk perdagangan pada Rabu (16/9/2026).
Ikuti DailyFX.ID
