— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Analis Phintraco Sekuritas menilai kenaikan harga minyak dunia dan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed menjadi dua sentimen utama yang membayangi pergerakan bursa saham.

Meskipun demikian, Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang dinilai berpotensi melawan arus pelemahan pasar. Salah satu saham yang disorot adalah PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).

Pada perdagangan Selasa (15/9/2026), IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 73,88 poin atau 1,13% ke level 6.461,15. Pelemahan ini terjadi di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 0,14% terhadap dolar AS, mencapai Rp 17.694 per dolar AS.

“IHSG hari ini berpotensi menguji level support di kisaran 6.350-6.400,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya yang dipublikasikan Rabu (16/9/2026).

Secara analisis teknikal, Phintraco Sekuritas mengamati bahwa tekanan terhadap IHSG masih terlihat dari pelebaran histogram negatif pada indikator MACD. Di sisi lain, Stochastic RSI dilaporkan telah memasuki area oversold. Kondisi ini mengindikasikan bahwa ruang untuk koreksi lebih lanjut masih terbuka, meskipun peluang terjadinya technical rebound juga perlu dicermati oleh para pelaku pasar.

Dua Sentimen Utama Penggerak Pasar

Sentimen pertama yang diperkirakan menekan pasar adalah penguatan harga minyak dunia yang terus berlanjut. Kenaikan harga komoditas energi ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan membuat pasar semakin cermat mengamati arah kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara.

Sentimen kedua berasal dari pasar yang menantikan keputusan suku bunga dari The Fed, bank sentral Amerika Serikat (AS). The Fed diperkirakan akan mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, yang akan membawanya ke kisaran 3,75%-4%. Kenaikan suku bunga di negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini berpotensi menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang, terutama jika The Fed memberikan sinyal kebijakan hawkish atau pengetatan moneter yang berkelanjutan.

Risiko Sektor Perbankan BUMN dan Data Ekonomi Global

Phintraco Sekuritas juga menyoroti adanya risiko pada sektor perbankan yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings sebelumnya telah memberikan peringatan mengenai potensi risiko kredit dan tekanan terhadap laba bank-bank BUMN. Hal ini disebabkan oleh proyeksi pertumbuhan penyaluran kredit yang diarahkan oleh pemerintah untuk meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan industri perbankan secara keseluruhan.

“Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dan menekan profitabilitas bank apabila kualitas kredit tidak dapat terjaga dengan baik,” papar Phintraco Sekuritas.

Selain itu, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi global yang dirilis pada pekan ini, yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.

Dari Amerika Serikat, pasar menantikan data penjualan ritel untuk bulan Agustus, yang diperkirakan tumbuh sebesar 0,9% secara bulanan, sebuah pemulihan setelah mengalami penurunan 0,6% pada bulan Juli. Inggris dijadwalkan merilis data inflasi Agustus, yang diprediksi meningkat menjadi 3,1% secara tahunan dari 2,9% pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, Jepang akan merilis data perdagangan untuk bulan Agustus. Pertumbuhan ekspor Jepang diperkirakan melambat menjadi 18,2% secara tahunan dari 23,2% pada Juli, sedangkan pertumbuhan impor diprediksi mencapai 26,3% dari 27,8%.

Di tengah berbagai tekanan yang dihadapi IHSG, Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang dinilai memiliki peluang untuk melawan arus pelemahan pasar. Saham-saham tersebut meliputi MAPI, AUTO, PWON, ULTJ, dan ANTM.