DailyFX.ID — Harga emas dunia mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Tekanan datang dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS atau US Treasury. Lonjakan harga minyak mentah turut memicu kekhawatiran inflasi, yang berpotensi memperkuat taruhan kenaikan suku bunga oleh The Fed.
Di pasar spot, harga emas ditutup turun 0,11% menjadi US$ 4.294,14 per ons troi. Bahkan, harga emas sempat menyentuh level terendah sejak 7 Agustus pada perdagangan Senin (14/9/2026). Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 0,43% menjadi US$ 4.333,4 per ons troi.
Strategi pasar senior StoneX, Daniel Pavilonis, mengatakan bahwa kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. Kondisi ini dapat memicu kenaikan suku bunga, yang pada akhirnya menjadi tekanan bagi emas. “Harga energi yang lebih tinggi menyebabkan inflasi lebih tinggi. Inflasi yang lebih tinggi bisa memicu suku bunga lebih tinggi. Itu tidak baik bagi emas,” ujar Pavilonis dikutip dari Reuters, Rabu (16/9/2026).
Pavilonis menambahkan bahwa harga emas saat ini bergerak dalam rentang terbatas. Namun, logam mulia tersebut berpotensi kembali tertekan apabila suku bunga terus meningkat. Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (16/9/2026) pukul 14.00 waktu AS.
Pasar keuangan memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4%. Pelaku pasar juga mencermati sinyal kebijakan moneter selanjutnya, termasuk kemungkinan pengetatan lebih lanjut. Pavilonis menilai sebagian besar kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga telah tercermin dalam harga emas. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada pernyataan The Fed setelah pengumuman kebijakan. “Ini benar-benar bergantung pada apa yang dikatakan The Fed setelahnya. Apakah mereka akan terus menaikkan suku bunga atau memantau situasi?” katanya.
Analis ING dalam catatannya menyebut sebagian besar risiko kebijakan moneter hawkish The Fed telah diperhitungkan pasar. Meski demikian, emas masih rentan melemah apabila bank sentral mengisyaratkan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Minyak Picu Inflasi
Harga minyak dunia melonjak lebih dari US$ 3 per barel setelah muncul laporan penghentian sementara pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, serta penghentian operasi di tiga ladang minyak Libya. Gangguan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa hambatan pasokan di jalur distribusi minyak utama dapat berlangsung selama beberapa pekan.
Kenaikan harga minyak turut memperkuat kekhawatiran inflasi. Kondisi ini menjadi tekanan tambahan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, dolar AS menguat sehingga membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun juga naik ke level tertinggi sejak 2007.
Emas memang kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Namun, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang relatif bebas risiko mengurangi daya tarik logam mulia tersebut.
Sementara itu, harga perak spot malah naik 0,69% menjadi US$ 63,67 per ons. Platinum menguat 0,8% menjadi US$ 1.779,58 per ons, sedangkan paladium melonjak 1,49% menjadi US$ 1.305,74 per ons.
Ikuti DailyFX.ID
