— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan pada sesi pertama perdagangan Selasa (11/8/2026). Pelaku pasar terlihat berhati-hati sambil mencermati hasil tinjauan indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026.

IHSG tercatat jatuh sebanyak 55,47 poin atau 0,87% ke level 6.309 pada perdagangan sesi pertama. Pilarmas Investindo Sekuritas mengemukakan bahwa pasar cenderung mengambil sikap berhati-hati menjelang review MSCI pada bulan Agustus ini. “Pelaku pasar berharap langkah reformasi yang dilakukan regulator pasar modal domestik dapat membuka peluang bagi MSCI untuk segera mencabut status pembekuan (freeze) saham Indonesia dalam tinjauan indeks tersebut,” tulis Pilarmas dalam risetnya.

Keputusan MSCI terkait Indonesia sebelumnya menjadi salah satu perhatian utama pasar. Hal ini dikarenakan keputusan tersebut dapat memengaruhi persepsi investor terhadap pasar saham domestik. Pengumuman hasil review juga diharapkan dapat memberikan kejelasan terhadap arah kebijakan indeks MSCI untuk saham Indonesia.

Di sisi eksternal, bursa regional Asia menunjukkan pergerakan yang beragam. Hal ini terjadi setelah harapan terhadap kesepakatan perdamaian di Timur Tengah dan pembukaan kembali Selat Hormuz kembali meredup. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (10/8/2026) menyerukan agar Iran memberikan kompensasi atas korban jiwa dalam konflik. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Teheran meminta kompensasi atas kerusakan yang disebabkan serangan AS dan Israel.

Kebuntuan tersebut mengurangi harapan tercapainya penyelesaian segera antara AS dan Iran. Ketidakpastian yang berlanjut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan prospek suku bunga. Presiden The Fed Bank of Cleveland Beth Hammack menyatakan bahwa sejumlah kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke target 2% bank sentral AS.

Destry Jadi Katalis Domestik

Di tengah tekanan eksternal, Pilarmas menyebutkan bahwa perkembangan pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi katalis positif bagi pasar. Pencalonan tersebut dinilai memberikan kepastian sekaligus menjaga kesinambungan kebijakan moneter setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Pengalaman Destry di BI dinilai dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

“Namun, tantangan ke depan adalah mempertahankan independensi BI sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi pemerintah,” tambah Pilarmas.

Pada perdagangan sesi pertama, saham STAR, YPAS, DART, FAST, dan WEGE menjadi lima saham dengan kenaikan terbesar. Sementara itu, saham IKBI, BAIK, SULI, TALF, dan RGAS mencatat penurunan terbesar.

Untuk rekomendasi saham, Pilarmas merekomendasikan buy KLBF dengan level support 765 dan resistance 850.