— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan pada sesi pertama perdagangan Jumat (25/9/2026), ditutup melemah 34,88 poin atau 0,55% ke level 6.263. Pelemahan ini sejalan dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas mengemukakan bahwa pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen global yang memengaruhi pergerakan pasar. Di antaranya adalah harga minyak dunia yang cenderung tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dalam jangka waktu yang lebih lama, serta perkembangan hubungan antara AS dan Tiongkok.

Pasar juga menantikan hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Washington. “Isu perdagangan menjadi salah satu perhatian utama, sementara kecerdasan buatan (AI) turut menjadi topik dalam pertemuan tersebut,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Jumat (25/9/2026).

Selain itu, Xi Jinping dikabarkan mendesak AS untuk secara eksplisit menentang kemerdekaan Taiwan. Perkembangan hubungan kedua negara menjadi perhatian serius para investor karena berpotensi memengaruhi perdagangan dan perekonomian global secara keseluruhan.

Pilarmas menambahkan, harga minyak dunia yang masih tinggi menjadi salah satu faktor penekan bagi pasar. Meskipun ada laporan mengenai potensi kesepakatan bertahap antara AS dan Iran yang dapat membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pasar minyak masih dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik.

Ketegangan di Timur Tengah dilaporkan meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman meluncurkan rudal ke arah sejumlah kota di Arab Saudi, termasuk Yanbu dan Taif. “Harga minyak yang tinggi berpotensi kembali mendorong inflasi global karena meningkatkan biaya energi, transportasi, dan produksi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mempersempit ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter,” tambah Pilarmas.

The Fed Bikin Pasar Keder

Tekanan lain yang dihadapi pasar datang dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kekhawatiran ini muncul setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami lonjakan.

Pasar menilai The Fed masih memiliki pekerjaan yang belum selesai dalam mengendalikan inflasi. Bahkan, ada kemungkinan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga jika tekanan harga belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Presiden The Fed Bank of New York, John Williams, menyatakan bahwa bank sentral masih memiliki banyak pekerjaan untuk mengendalikan inflasi. Sementara itu, Presiden The Fed Bank of Philadelphia, Anna Paulson, menyebutkan bahwa pengetatan kebijakan tambahan yang moderat mungkin masih diperlukan.

Dari dalam negeri, Pilarmas menilai pergerakan harga minyak dunia juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kondisi fiskal Indonesia. “Investor turut meningkatkan kewaspadaan menjelang rilis data perdagangan Agustus dan inflasi September pada pekan depan,” kata Pilarmas.

Inflasi tahunan Indonesia tercatat meningkat menjadi 3,19% pada Agustus, terutama didorong oleh kenaikan harga pangan yang berkaitan dengan dampak fenomena El Nino.

Pada sesi pertama perdagangan Jumat, sejumlah saham mencatat kenaikan terbesar, yaitu SHID, TRUK, INTD, FORU, dan ROCK. Sementara itu, saham yang mengalami penurunan terbesar antara lain BANK, RODA, PTMP, TRIN, dan SLIS.

Untuk perdagangan hari ini, Pilarmas merekomendasikan beli saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dengan level support di Rp1.290 dan resistance di Rp1.360.