— Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini masih dibayangi oleh tekanan dari faktor eksternal dan belum pulihnya arus dana asing yang keluar dari pasar domestik.

Pada perdagangan Selasa, IHSG tercatat terkoreksi cukup dalam sebesar 1,53% ke level 6.267,8. Koreksi ini terjadi bersamaan dengan aksi jual investor asing yang terus berlanjut. Di pasar reguler, asing mencatatkan net sell sekitar Rp 280 miliar. Jika memperhitungkan seluruh pasar, net sell mencapai sekitar Rp 687,8 miliar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar saham domestik belum sepenuhnya mereda. Akumulasi net sell asing sepanjang tahun ini telah mencapai kisaran Rp 95 triliun.

Analis Pasar Modal, Hendra Wardana, menyatakan bahwa besarnya arus keluar dana asing menjadi perhatian serius. Hal ini mengindikasikan investor global masih cenderung berhati-hati terhadap aset Indonesia. Meskipun secara valuasi sejumlah saham domestik sudah relatif menarik setelah mengalami koreksi, investor asing belum menunjukkan perubahan sikap yang konsisten untuk kembali melakukan akumulasi.

“Selama tekanan jual asing masih berlanjut, ruang penguatan IHSG berpotensi terbatas dan setiap kenaikan indeks masih berisiko dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan profit taking atau mengurangi eksposur,” ucap Hendra dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).

Di sisi eksternal, sentimen pasar kembali tertekan oleh memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia.

Eskalasi konflik yang mendorong harga minyak naik lebih tinggi dapat kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Hal ini berpotensi membuat pasar semakin berhati-hati terhadap prospek pelonggaran kebijakan moneter negara-negara maju. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat kembali menekan mata uang negara berkembang dan mendorong investor melakukan pengurangan risiko pada aset seperti saham Indonesia.

Dari domestik, perbaikan retail sales pada Juni yang tercatat mengalami kontraksi 3,0% secara tahunan dari sebelumnya -3,9% sebenarnya memberikan sinyal bahwa konsumsi masyarakat mulai membaik. Namun, perbaikan tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari faktor eksternal dan arus keluar dana asing.

“Pasar saat ini membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk mengubah sentimen, baik dari sisi kebijakan moneter, stabilitas rupiah maupun perbaikan fundamental ekonomi dan korporasi,” kata Hendra.

Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat Juli. Konsensus memperkirakan headline inflasi sebesar 3,4% YoY dan core 2,5% YoY. Data ini akan menjadi salah satu penentu arah ekspektasi suku bunga The Fed.

Apabila inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi penurunan suku bunga dapat kembali tertunda dan dolar AS berpotensi menguat. Hal ini pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar negara berkembang (emerging market).

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi dapat menjadi katalis positif karena membuka ruang bagi ekspektasi pelonggaran moneter AS dan berpotensi mendorong aliran dana kembali ke pasar negara berkembang.

Selain itu, MSCI Review yang berlangsung hari ini juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan karena berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar Indonesia.

Dalam kondisi net sell asing yang sudah mencapai sekitar Rp 95 triliun sepanjang tahun, setiap keputusan atau perubahan metodologi MSCI berpotensi meningkatkan volatilitas, khususnya pada saham-saham yang memiliki bobot besar dalam indeks.

Investor juga masih akan mencermati perkembangan terkait kepastian Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia. Hal ini penting mengingat stabilitas rupiah dan arah kebijakan moneter akan menjadi faktor krusial dalam menjaga kepercayaan investor.

“Secara teknikal, setelah terkoreksi cukup tajam, IHSG memang memiliki peluang mengalami technical rebound. Area 6.200–6.240 menjadi support penting yang perlu dipertahankan. Jika area tersebut mampu bertahan dan IHSG kembali menembus 6.300, peluang rebound menuju 6.385 masih terbuka,” ujar Hendra.

Namun, selama tekanan asing belum menunjukkan pembalikan yang konsisten, kenaikan IHSG sebaiknya tetap dilihat sebagai technical rebound dan belum sebagai sinyal bahwa tren penurunan telah berakhir.

Jika level support 6.200 ditembus, risiko pelemahan lanjutan akan semakin besar. Dengan demikian, perdagangan hari ini berpotensi tetap volatil. Investor perlu mencermati kombinasi antara keputusan MSCI, data inflasi AS, perkembangan geopolitik, serta arah arus dana asing sebelum meningkatkan eksposur secara agresif.