— JAKARTA – Potensi penguatan saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) kembali terbuka setelah Indo Premier Sekuritas menaikkan target harga emiten tambang tersebut menjadi Rp 1.250 per saham, dari sebelumnya Rp 1.150.

Peningkatan target harga ini mencerminkan perubahan ekspektasi terhadap kinerja HRUM, terutama karena laba bersih diproyeksikan mulai pulih pada semester II-2026 (2H26). Pemulihan ini didorong oleh peningkatan volume batu bara dan kontribusi signifikan dari bisnis nikel.

Kenaikan target harga tidak semata-mata bersumber dari perbaikan harga komoditas, tetapi juga dari potensi normalisasi operasional yang sebelumnya mengalami hambatan. Setelah menghadapi keterlambatan produksi bijih nikel, kenaikan biaya sulfur, dan tertundanya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara, HRUM kini memasuki fase dengan basis produksi yang lebih tinggi.

Kondisi ini membuat pertumbuhan volume menjadi katalis yang lebih penting bagi laba dibandingkan sentimen jangka pendek terhadap harga komoditas. Indo Premier memperkirakan laba bersih HRUM pada 2H26 akan tumbuh 54% secara semesteran (year-on-year/hoh). Proyeksi ini menunjukkan bahwa tekanan yang membebani kinerja pada paruh pertama tahun mulai berbalik menjadi katalis pertumbuhan.

Pada saat yang sama, valuasi HRUM yang hanya sekitar 6 kali P/E FY26F, dinilai belum sepenuhnya mencerminkan potensi pemulihan tersebut. Dengan harga saham Rp850 pada penutupan Jumat (14 Agustus 2026), target Rp1.250 menyiratkan potensi kenaikan sekitar 47,06%.

“Kami menilai HRUM merupakan kisah turnaround yang belum banyak diperhatikan pasar, dengan ekspektasi laba bersih 2H26 tumbuh 54% hoh. Saat ini, saham HRUM diperdagangkan hanya sekitar 6 kali P/E FY26F,” kata analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam riset terbarunya yang dikutip Senin (17 Agustus 2026).

Menurut Ryan, sejumlah sentimen negatif yang selama ini menekan HRUM telah tercermin dalam harga saham. Sentimen-sentimen tersebut termasuk keterlambatan tiga tahun dalam peningkatan produksi bijih nikel, kenaikan biaya sulfur, serta keterlambatan kuota RKAB pada bisnis batu bara. Bahkan, penurunan kepemilikan investor institusi terhadap HRUM dinilai menunjukkan bahwa sebagian kekhawatiran pasar telah terdiskon.

Laba dari Batu Bara

Sementara itu, bisnis batu bara berpotensi memberikan tambahan dorongan terhadap laba pada 2H26. Meskipun bukan lagi menjadi prioritas utama dalam transformasi bisnis HRUM, peningkatan volume produksi yang tertunda pada semester satu memberikan ruang pertumbuhan yang cukup besar pada paruh kedua tahun ini.

Pada paruh pertama 2026 (1H26), HRUM baru menjual sekitar 200 ribu ton batu bara dari kuota RKAB sebesar 3 juta ton. Dengan tingkat realisasi tersebut, sebagian besar penjualan diperkirakan baru terjadi pada 2H26. Kondisi ini membuat kontribusi batu bara terhadap laba berpotensi meningkat signifikan dibandingkan semester pertama.

Indo Premier memperkirakan, porsi Domestic Market Obligation (DMO) juga akan meningkat. Meski HRUM memiliki karakteristik batu bara berkalori tinggi yang berbeda dengan kebutuhan PLN, faktor tersebut dinilai masih dapat dikelola.

Di sisi lain, kenaikan biaya bahan bakar menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Namun, HRUM diperkirakan tetap mampu menghasilkan margin kas batu bara sekitar US$15 per ton pada 2H26 setelah memperhitungkan royalti dan biaya operasional.

Produksi Bijih Nikel

Di luar batu bara, katalis yang lebih struktural berasal dari peningkatan produksi tambang bijih nikel PT Position. Indo Premier memperkirakan, penjualan bijih nikel HRUM akan meningkat signifikan pada 2H26 seiring dengan kenaikan produksi tambang tersebut.

Pada 1H26, volume penjualan bijih nikel baru mencapai sekitar 2,6 juta ton, sedangkan target FY26 berada di kisaran 8-10 juta ton. Selisih tersebut menunjukkan masih besarnya ruang peningkatan volume pada semester kedua.

Komposisi bijih juga memberikan keuntungan bagi struktur biaya. Sekitar 80% bijih nikel HRUM merupakan saprolit. Dengan peningkatan produksi PT Position, kebutuhan perusahaan terhadap pasokan bijih dari pihak ketiga dapat ditekan. Dampaknya, biaya kas fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) berpotensi turun seiring meningkatnya pasokan internal.

Penurunan harga patokan mineral (HPM) untuk bijih saprolit dan limonit juga menjadi faktor positif. Harga bahan baku yang lebih rendah dapat membantu menekan biaya kas RKEF dan memberikan ruang bagi perbaikan margin ketika volume produksi meningkat.