— Sejumlah saham yang terafiliasi dengan konglomerasi Haji Isam menjadi pusat perhatian pelaku pasar dalam beberapa hari terakhir menyusul penguatan yang signifikan. Di tengah momentum kenaikan ini, investor juga mencermati fundamental emiten JARR, TEBE, PGUN, dan FAST berdasarkan laporan kinerja semester I-2026.

Data yang dihimpun BRI Danareksa Sekuritas pada Selasa (18/8/2026) menunjukkan bahwa laba bersih PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menunjukkan perbaikan dengan penyempitan kerugian sebesar 59% secara tahunan atau year on year (yoy).

Secara rinci, JARR mencatatkan laba bersih sebesar Rp 159 miliar pada semester I-2026, mengalami penurunan tipis 1,2% dari Rp 161 miliar pada semester I-2025. Sementara itu, TEBE membukukan laba bersih Rp 20 miliar pada semester I-2026, yang berarti turun 26,2% dibandingkan Rp 27,1 miliar pada semester I-2025.

Penurunan yang lebih dalam terjadi pada PGUN, di mana laba bersihnya merosot 47% menjadi Rp 44 miliar pada semester I-2026 dari angka Rp 83 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, FAST masih mencatat rugi bersih, namun kondisinya membaik dengan kerugian yang menyempit 59% menjadi Rp 57 miliar, dibandingkan rugi Rp 139 miliar pada semester I-2025.

Penguatan signifikan pada saham-saham tersebut terjadi bersamaan dengan lonjakan perhatian pada saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Harga saham emiten batu bara ini dilaporkan melonjak sekitar 42% hanya dalam kurun waktu sepekan.

BRI Danareksa Sekuritas mengidentifikasi rumor akuisisi sebagai salah satu katalis utama yang mendorong minat terhadap saham BYAN. Di pasar beredar spekulasi mengenai kemungkinan pengambilalihan sekitar 62% saham BYAN oleh pihak yang dikaitkan dengan Jhonlin. Namun, informasi mengenai transaksi ini masih berstatus rumor dan spekulasi pasar.

Spekulasi aksi korporasi ini semakin menguat setelah PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 21 September 2026. Agenda resmi RUPSLB tersebut hingga kini belum diumumkan, namun kombinasi rumor aksi korporasi dan agenda RUPSLB JARR menjadi faktor yang mendapat perhatian pelaku pasar di tengah kenaikan tajam saham BYAN.

Dari perspektif teknikal, BRI Danareksa Sekuritas mengamati momentum kenaikan BYAN semakin menguat. Saham ini dilaporkan mengalami breakout atau penembusan dari pola pembalikan arah dan moving average 200 hari (MA200), sebuah indikator rata-rata pergerakan harga selama 200 hari perdagangan. Pergerakan ini turut dibarengi oleh lonjakan volume transaksi, mengindikasikan peningkatan minat beli atau buying interest terhadap saham BYAN.

Meskipun demikian, reli saham BYAN yang mencapai sekitar 42% dalam sepekan memerlukan pencermatan lebih lanjut. Harga sahamnya telah mencapai area resistance atau batas atas teknikal pada rentang Rp 16.450 hingga Rp 17.670. Selama harga mampu bertahan di atas Rp 16.450, momentum bullish atau kecenderungan kenaikan masih terbuka dan berpotensi menuju kisaran Rp 17.670-Rp 18.565.