— Indonesia diproyeksikan akan menjadi salah satu negara yang menikmati secara signifikan jumlah investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) global. Peluang besar ini dapat terwujud apabila Indonesia mampu memenuhi ketersediaan pasokan listrik, konektivitas, ketersediaan lahan, dan kepastian kebijakan atau regulasi.

Agung Wiryawan, PwC Indonesia Infrastructure Leader, menyatakan bahwa meningkatnya kebutuhan digital di Indonesia menciptakan peluang besar bagi investasi pusat data (data center). Namun, untuk memanfaatkan peluang tersebut, dibutuhkan lebih dari sekadar pembangunan kapasitas.

“Ketersediaan pasokan listrik, konektivitas, ketersediaan lahan, dan kepastian kebijakan perlu berkembang secara bersamaan, didukung oleh pelaksanaan proyek yang lebih kuat serta partisipasi sektor swasta yang lebih besar,” kata Agung dalam keterangan persnya, Selasa (15/9/2026).

Berdasarkan laporan terbaru PwC Global Data Centre Outlook, investasi global pada infrastruktur AI diproyeksikan mencapai rekor US$31,6 triliun hingga tahun 2050. Sementara itu, belanja modal tahunan untuk data center diperkirakan meningkat dari sekitar US$800 miliar pada 2026 menjadi US$1,8 triliun pada 2050.

Analisis ini juga menguji dua skenario mengenai bagaimana perubahan kebijakan perdagangan, kontrol ekspor, dan penguatan infrastruktur digital domestik dapat memengaruhi investasi global pada infrastruktur AI.

Skenario yang berpotensi menguntungkan Indonesia dan negara-negara di Asia Pasifik adalah meningkatnya fokus pada penguatan infrastruktur digital dan infrastruktur domestik yang tepercaya, yang dapat mengubah lokasi penempatan investasi. Apabila skenario ini terjadi, maka investasi akan lebih banyak mengalir ke negara-negara dengan permintaan domestik yang kuat dan kapasitas data center yang masih berkembang, seiring pemerintah dan sektor yang diatur secara ketat memprioritaskan infrastruktur lokal.

Sebagai hasilnya, Asia Pasifik diperkirakan menjadi wilayah yang memperoleh peningkatan investasi terbesar. Belanja modal kumulatif kawasan ini diproyeksikan meningkat 7% di atas skenario dasar pada 2050. Indonesia termasuk negara yang diperkirakan mengalami peningkatan investasi yang signifikan, bersama India, Vietnam, Filipina, dan Thailand. Hal ini didorong oleh besarnya permintaan domestik yang selama ini masih banyak dilayani oleh data center regional.

“Pendekatan yang terkoordinasi di berbagai aspek tersebut akan menjadi kunci dalam membangun infrastruktur digital yang tangguh dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang,” ujar Agung.

Permintaan Domestik Mendorong Investasi

Selain pertimbangan infrastruktur, meningkatnya kebutuhan digital juga memperkuat potensi investasi data center di Indonesia. Pertumbuhan layanan cloud, adopsi AI, dan kebutuhan terkait pengelolaan serta penyimpanan data diperkirakan akan mendorong kebutuhan kapasitas tambahan di seluruh Indonesia.

Abdullah Azis, PwC Indonesia Technology, Media & Telecommunications Leader, menambahkan bahwa Indonesia tengah memasuki fase baru transformasi digital, di mana AI, adopsi cloud, dan layanan berbasis data semakin menjadi bagian penting dari pertumbuhan bisnis dan pembangunan ekonomi.

“Sebagai salah satu ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki peluang besar untuk menarik lebih banyak investasi data center, didukung oleh meningkatnya permintaan domestik, berkembangnya ekosistem digital, dan pertimbangan terkait penyimpanan serta pengelolaan data,” ungkap Azis.

Untuk itu, Azis menuturkan, fokus saat ini bukan hanya menambah kapasitas, tetapi juga membangun fondasi infrastruktur digital yang tangguh, aman, dan berkelanjutan untuk mendukung inovasi, meningkatkan daya saing, serta menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.

Kapasitas Data Center Indonesia

Kapasitas operasional pusat data (data center) di Indonesia tercatat mengalami kenaikkan signifikan pada kuartal II-2026. Pada periode tersebut, kapasitas operasional mencapai 468 megawatt (MW), dengan potensi kapasitas tambahan sebesar 1.957 MW hingga 2030. Jumlah kapasitas tersebut melesat dibandingkan semester II-2025 yang masih sekitar 321 MW.

Pemicunya adalah meningkatnya adopsi cloud, percepatan digitalisasi di berbagai sektor, pertumbuhan konsumsi data, kebutuhan AI yang meningkat, serta ekspansi masif yang terus dilakukan oleh hyperscaler global yang menyasar pasar Indonesia.

Sepanjang semester I-2026, sejumlah perusahaan seperti Princeton Digital Group (PDG), Digital Edge, ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC), DCI Indonesia, Racks Central, dan Firmus Technologies, mengumumkan pengembangan proyek baru, fasilitas pendanaan, maupun rencana ekspansi di Jabodetabek dan Batam.

Hal ini terungkap dari laporan riset Cushman & Wakefield Q2 2026 bertajuk “Powering Indonesia’s Future: Where Real Estate Meets Digital Infrastructure.” Pritesh Swamy, Head of Data Centre, Research & Advisory Asia Pacific, Cushman & Wakefield, mengatakan perkembangan ini mendorong permintaan yang berkelanjutan terhadap infrastruktur digital di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar data center yang semakin penting di kawasan Asia Pasifik.

“Pasar data center Indonesia tengah memasuki fase pertumbuhan baru, di mana konvergensi antara sektor properti, infrastruktur digital, dan investasi modal menciptakan peluang yang semakin besar,” kata Pritesh dalam keterangan persnya belum lama ini.

Data Satista menyebutkan bahwa nilai bisnis pusat data Indonesia terus tumbuh mencapai US$2,52 miliar pada 2025, dan diproyeksikan naik menjadi US$5,82 miliar pada 2030, dengan pertumbuhan CAGR 6,69%.

Berdasarkan laporan Structure Research, Indonesia idealnya memiliki kapasitas data center hingga 2.700 megawatt (MW). Sayangnya, walau Indonesia sudah menjadi salah satu pemain utama, kapasitas pusat data saat ini masih berkisar 500-an MW, dan berada di peringkat kedua terbesar di ASEAN.