BEIJING – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing pada Kamis (17/9/2026). Pertemuan ini bertujuan untuk mempelajari pengalaman sukses pembangunan China dan mempererat kerja sama di berbagai sektor industri strategis masa depan.

Kunjungan kerja ini merupakan kelanjutan dari komunikasi intensif kedua negara, setelah sebelumnya kedua tokoh tersebut bertemu dalam Comprehensive Strategic Dialogue (CSD) serta Pertemuan Mekanisme Dialog 2+2 di Jakarta pada Agustus 2026.

Eksplorasi Sektor Strategis dan Teknologi Masa Depan

Luhut menyampaikan bahwa Indonesia menaruh perhatian khusus pada perencanaan pembangunan jangka panjang China, khususnya dalam menyelaraskan arah kebijakan nasional dengan Rencana Lima Tahun ke-15 China. Indonesia membidik perluasan investasi dan transfer teknologi pada industri berteknologi tinggi.

“Indonesia berharap dapat mempelajari pengalaman keberhasilan China dalam melaksanakan Rencana Lima Tahun ke-15 serta memperkuat kerja sama di berbagai industri strategis baru, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), bioteknologi, layanan kesehatan, manufaktur maju, dan keuangan digital,” ungkap Luhut, Kamis.

Ia menambahkan bahwa China merupakan mitra strategis paling andal dan bersifat jangka panjang bagi pembangunan nasional Indonesia. Selain sektor teknologi baru, Indonesia juga berkomitmen memperkuat aliansi tradisional di bidang pertambangan, riset dan pengembangan (R&D), serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.

Sinergi Global South dan Apresiasi Keputusan Presiden Prabowo

Menanggapi hal tersebut, Menlu China Wang Yi menyambut hangat komitmen Indonesia untuk memperdalam hubungan bilateral. Wang Yi menilai kolaborasi antara dua kekuatan ekonomi berkembang terbesar di kawasan ini memiliki pengaruh strategis yang melampaui batas hubungan dua negara.

Pemerintah China menyatakan kesiapannya untuk membantu Indonesia meningkatkan kapasitas pembangunan secara mandiri dan mempercepat proses modernisasi. China mendorong perluasan sinergi pada sektor biofarmasi, teknologi informasi, hingga tata kelola kecerdasan buatan, selain melanjutkan pilar kerja sama energi, mineral, dan kawasan industri.

Wang Yi secara khusus memberikan apresiasi atas langkah strategis Presiden Prabowo Subianto yang membawa Indonesia bergabung dalam Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia. Langkah tersebut dinilai sebagai keputusan bijaksana untuk mendorong pengembangan AI yang inklusif dan berorientasi pada kemajuan bersama.

Pihak China pun berharap pemerintah Indonesia terus menjaga iklim investasi dan kepastian kebijakan yang kondusif bagi keberlanjutan operasi perusahaan-perusahaan China di Tanah Air. Kemitraan antara Indonesia dan China telah mengalami transformasi signifikan dalam satu dekade terakhir, berkembang dari sekadar hubungan perdagangan komoditas menjadi aliansi strategis komprehensif.

China konsisten menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia, terbukti dari keterlibatan aktifnya dalam proyek infrastruktur skala besar seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) serta industrialisasi hilirisasi nikel dan mineral logam lainnya. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan pengawasan Dewan Ekonomi Nasional, fokus kemitraan kedua negara kini mulai digeser menuju penguatan ketahanan ekonomi berbasis teknologi tinggi dan keberlanjutan.

Keputusan Indonesia untuk terlibat aktif dalam penguasaan AI dan industri manufaktur maju bersama China menjadi bagian dari strategi nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, meningkatkan daya saing industri domestik, serta memperkuat posisi bargaining Indonesia di panggung Global South.