DailyFX.ID — Pemerintah Indonesia terus berupaya keras untuk memperluas pasar ekspor di tengah ketidakpastian ekonomi global dan risiko ketergantungan pada pasar tradisional. Kawasan Amerika Latin dan Karibia diidentifikasi memiliki potensi besar sebagai tujuan ekspor baru sekaligus sumber investasi bagi Indonesia.
Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Grata Endah Werdaningtyas, menjelaskan bahwa upaya ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Indonesia-Latin America and Caribbean (INA-LAC) Business Mission. Misi dagang ini akan digelar di Santiago, Chile, pada 1-2 Oktober 2026.
“Pemerintah ingin menunjukkan keseriusan Indonesia untuk membuka akses pasar bagi produk nasional ke Amerika Latin sekaligus mendorong investasi dua arah,” ujar Grata di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Sejak INA-LAC pertama kali digelar pada 2019, nilai perdagangan dan investasi Indonesia dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2025, nilai ekspor Indonesia ke kawasan tersebut tercatat sebesar US$ 7,68 miliar, sementara nilai impor mencapai US$ 8,5 miliar.
Grata menegaskan bahwa fokus utama bukan pada surplus atau defisit perdagangan semata, melainkan pada peningkatan total nilai perdagangan antara kedua kawasan. “Kita harus mengejar peningkatan total perdagangan. Semakin besar nilai perdagangan, manfaat yang diperoleh kedua belah pihak juga akan semakin besar,” katanya.
Saat ini, porsi perdagangan Indonesia dengan Amerika Latin dan Karibia baru berkisar 3% dari total perdagangan global Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan yang masih sangat besar terbuka lebar.
Diversifikasi pasar menjadi krusial mengingat tingginya ketergantungan pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Eropa, dan China dapat meningkatkan kerentanan terhadap perubahan kebijakan perdagangan negara-negara tersebut. “Kalau kita memiliki opsi pasar lain, maka kita bisa mengurangi dampak tekanan yang muncul dari pasar tradisional. Bukan memindahkan pasar, tetapi memperluas pasar dengan merangkul pasar-pasar nontradisional,” jelas Grata.
Chile Jadi Pintu Masuk Strategis
Pemilihan Chile sebagai lokasi penyelenggaraan INA-LAC Business Mission tahun ini didasari oleh posisinya yang strategis sebagai pusat bisnis dan perdagangan di kawasan Amerika Latin. Chile memiliki sekitar 65 perjanjian perdagangan bebas dengan berbagai negara dan kawasan, menjadikannya salah satu negara dengan tingkat keterbukaan ekonomi tertinggi di dunia.
Banyak perusahaan multinasional juga menjadikan Chile sebagai basis operasional regional mereka. Jumlah perusahaan Indonesia yang mengikuti misi dagang tahun ini meningkat menjadi sekitar 21 perusahaan, naik dari sekitar 14 perusahaan pada tahun sebelumnya. Selain forum bisnis, para peserta juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke berbagai sektor industri seperti pangan, manufaktur, pertambangan, dan pengolahan untuk menjajaki peluang kerja sama langsung dengan mitra usaha setempat.
Bidik Mineral Kritis dan Energi Bersih
Salah satu fokus utama Indonesia di kawasan Amerika Latin adalah pengembangan rantai pasok mineral kritis yang menjadi fondasi industri masa depan, termasuk baterai kendaraan listrik, semikonduktor, dan teknologi energi bersih. Amerika Latin merupakan produsen utama berbagai mineral strategis dunia, termasuk sekitar 35% produksi lithium global dan 90% produksi niobium yang sebagian besar berasal dari Brasil.
Grata menekankan pentingnya membangun kemitraan dengan negara-negara Amerika Latin agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan industri pengolahan dan investasi di sektor hilir. “Kita perlu bekerja sama untuk mengembangkan supply chain sendiri sehingga posisi kita dalam industri masa depan menjadi lebih kuat,” ujarnya.
Selain sektor pertambangan, peluang kerja sama juga terbuka lebar di bidang energi bersih, termasuk teknologi hidrogen, serta pengembangan konektivitas logistik yang dapat memperluas akses produk Indonesia ke pasar Amerika Latin. Kemlu berharap penguatan hubungan bisnis melalui INA-LAC dapat menjadi pintu masuk bagi peningkatan perdagangan, investasi, dan kerja sama industri Indonesia dengan kawasan Amerika Latin dalam beberapa tahun mendatang.
Belajar dari Vietnam untuk Tingkatkan Daya Saing
Pemerintah mengakui bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan daya saing dibandingkan negara seperti Vietnam yang telah lebih dahulu menembus pasar Amerika Latin. Grata menyoroti bahwa persoalan utama bukan sekadar kualitas produk, melainkan efisiensi produksi dan konektivitas logistik.
“Bagaimana mereka bisa membuat produk yang sama dengan kita dengan harga lebih murah dan logistik yang lebih efisien. Itu yang harus kita pelajari,” kata Grata. Ia menambahkan bahwa Indonesia perlu mempelajari jalur perdagangan yang digunakan Vietnam, termasuk bagaimana negara tersebut membangun konektivitas pengiriman barang ke Amerika Latin dengan biaya yang lebih kompetitif.
Perjanjian Perdagangan Menjadi Pekerjaan Rumah
Indonesia hingga kini belum memiliki perjanjian perdagangan komprehensif (CEPA) dengan banyak negara di Amerika Latin, meskipun kawasan tersebut dinilai memiliki potensi pasar dan investasi yang besar. Rendahnya intensitas hubungan bisnis menjadi salah satu tantangan untuk mendorong pembentukan perjanjian perdagangan baru.
Grata menjelaskan bahwa pemerintah memang mendorong pembentukan preferential trade agreement (PTA) dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin. Namun, proses ini tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif pemerintah. Pelaku usaha perlu terlebih dahulu melihat besarnya peluang perdagangan dan investasi di kawasan tersebut agar dapat ikut mendorong pemerintah masing-masing negara untuk membuka akses perdagangan dengan Indonesia.
“PTA lebih banyak didorong oleh pemerintah. Namun, kita ingin meningkatkan kapasitas para pelaku bisnis agar mereka juga dapat mendorong pemerintahnya masing-masing,” ujar Grata.
Ia menambahkan, salah satu persoalan utama hubungan dagang Indonesia dengan Amerika Latin adalah jarak geografis yang sangat jauh. Kondisi ini membuat hubungan bisnis belum terbentuk secara kuat dan berkelanjutan.
INA-LAC, yang telah berlangsung sejak 2019, menjadi salah satu upaya pemerintah membangun koneksi tersebut. Grata menilai konsistensi sangat penting karena pembentukan relasi bisnis dengan kawasan yang secara geografis jauh dari Indonesia tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. “Kalau kita berhenti, orang akan lupa. Apalagi kawasan ini secara geografis sangat jauh dari kita,” ungkapnya.
Pemerintah berharap pembentukan PTA atau CEPA tidak hanya menjadi agenda antarpemerintah. Dunia usaha harus menunjukkan adanya kebutuhan nyata terhadap pembukaan akses pasar. Perusahaan Indonesia yang telah berinvestasi di Amerika Latin maupun perusahaan Amerika Latin yang telah masuk ke Indonesia dapat menjadi penggerak untuk memperluas hubungan ekonomi.
Saat ini, sejumlah perusahaan Indonesia seperti Pertamina, IndoAgri, Archipelago, dan JNT Express telah memiliki aktivitas di kawasan tersebut. Sebaliknya, perusahaan dari Amerika Latin seperti AJE dari Peru dan Epiroc juga telah berinvestasi di Indonesia. “Kita tinggal bagaimana memperluasnya. Perusahaan-perusahaan yang sudah menikmati akses pasar dan investasi di Indonesia akan menjadi kekuatan besar untuk mendorong perubahan kebijakan di pemerintah mereka,” tutur Grata.
Grata menilai, ketika pelaku usaha telah melihat manfaat langsung dari perdagangan dengan Indonesia, tekanan kepada pemerintah untuk membuka akses melalui perjanjian perdagangan akan semakin kuat.
Ikuti DailyFX.ID
