— JAKARTA – Industri logam nasional menghadapi tantangan signifikan akibat tingginya kebutuhan impor dan keterbatasan pasokan bahan baku domestik. Ketidakpastian ekonomi global turut menambah tekanan pada sektor ini.

Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma), Dadang Asikin, menyatakan adanya kesenjangan antara kebutuhan pasar dengan kapasitas produksi dalam negeri. “Kemampuan produksi dalam negeri ini belum banyak diketahui oleh pengguna akhir atau end user,” ujarnya dalam Konferensi Pers GIFA dan METEC Indonesia 2026 di Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Dadang mencontohkan, pada sektor minyak dan gas (migas), industri nasional baru mampu memenuhi sekitar 48% kebutuhan peralatan. Sisanya, sekitar 52%, masih dipasok dari produk impor. “Untuk oil and gas saja, data terakhir menunjukkan baru sekitar 48% yang terserap dari industri dalam negeri. Sisanya masih diisi barang impor,” jelasnya.

Tingginya ketergantungan impor ini, menurut Dadang, tidak sepenuhnya mencerminkan kelemahan industri domestik. Sejumlah barang modal dan peralatan industri memerlukan teknologi tinggi yang belum dapat diproduksi secara lokal. “Memang harus kita akui ada beberapa kelas barang modal atau industri permesinan yang belum bisa kita produksi, terutama yang berkaitan dengan teknologi,” tuturnya.

Selain tantangan teknologi, keterbatasan bahan baku juga menjadi persoalan utama. Industri logam dan mesin membutuhkan berbagai material, termasuk baja khusus yang belum seluruhnya tersedia dari produksi dalam negeri. Keterbatasan pasokan bahan baku ini mempengaruhi daya saing industri karena pelaku usaha masih harus mengandalkan impor.

Dadang menambahkan, salah satu langkah strategis yang perlu dilakukan pemerintah dan pelaku industri adalah memperluas promosi produk manufaktur nasional. Pameran industri dan kerja sama dengan kementerian serta badan usaha milik negara (BUMN) dapat menjadi sarana efektif.

Bahan Baku Jadi Tantangan Utama

Wakil Ketua Asosiasi Pengecoran Logam dan Tempa Indonesia (Aplindo), Iwan Lukito, menegaskan bahwa persoalan bahan baku masih menjadi tantangan utama bagi industri pengecoran logam nasional. Industri ini membutuhkan pasokan logam yang stabil dengan harga kompetitif untuk meningkatkan produksi dan memperluas pasar.

“Agenda nomor satu yang kami harapkan adalah tata kelola bahan baku. Karena selama ini pasokan bahan baku di Indonesia masih kurang,” kata Iwan.

Untuk sektor besi baja, kemampuan pemasok lokal dalam memenuhi kebutuhan industri nasional masih terbatas, hanya sekitar 20%-30% dari total kebutuhan. Sisanya masih bergantung pada impor. “Untuk besi baja sendiri secara historis mungkin hanya 20% sampai 30% kebutuhan yang bisa dipenuhi supplier lokal. Jadi masih membutuhkan banyak impor,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk komoditas aluminium, Iwan melihat adanya peluang penguatan industri domestik seiring bertambahnya kapasitas primary smelter di dalam negeri. Peningkatan produksi aluminium nasional dinilai dapat memperkuat rantai pasok industri hilir. “Kalau aluminium tersedia lebih banyak, tentu kita bisa mengambil lebih banyak pekerjaan dan proyek,” ujarnya.

Peluang Perbaikan Kinerja

Dari sisi kinerja, industri logam mulai melihat adanya peluang perbaikan seiring meningkatnya aktivitas manufaktur nasional. Pergerakan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur menjadi salah satu indikator penting yang dapat mempengaruhi permintaan produk industri mesin dan logam.

Dadang menjelaskan, ketika PMI manufaktur berada di atas level 50, kondisi tersebut menunjukkan adanya ekspansi industri yang biasanya diikuti peningkatan kebutuhan terhadap mesin dan peralatan produksi. “PMI itu menjadi trigger industri kita. Kalau PMI naik, kebutuhan barang-barang yang diperlukan untuk kemajuan industri juga akan meningkat,” jelas Dadang.

Peningkatan utilisasi kapasitas industri logam sangat bergantung pada pertumbuhan permintaan domestik. Belanja pemerintah melalui APBN, proyek strategis nasional, serta investasi baru dinilai dapat menjadi pendorong utama.

Dadang berharap investasi yang dikelola Danantara dapat menjadi katalis bagi industri logam nasional. Investasi sekitar Rp 225 triliun hingga Juni 2026 yang diarahkan ke sejumlah proyek, termasuk smelter, diharapkan dapat membuka peluang bagi industri manufaktur dalam negeri.

“Ada dua resource yang bisa menjadi trigger, yaitu belanja APBN melalui proyek strategis nasional dan program yang bersumber dari Danantara. Kami harapkan ini bisa mendorong industri permesinan dan logam Indonesia,” ucapnya.

Sementara itu, Iwan memperkirakan industri pengecoran logam dapat tumbuh sekitar 20% sepanjang tahun ini, dengan total produksi anggota asosiasi mencapai sekitar 500 ribu ton pada tahun sebelumnya. Pelaku industri pengecoran logam mulai menunjukkan optimisme terhadap prospek bisnis hingga akhir tahun.

GIFA dan METEC Indonesia 2026 Dorong Kolaborasi

Dalam upaya mendorong industri logam dan turunannya, pameran industri logam GIFA dan METEC Indonesia 2026 akan digelar dalam skala yang lebih besar untuk memperkuat kolaborasi industri foundry, metalurgi, dan teknologi baja di Indonesia.

Country General Manager Pamerindo Indonesia, Lia Indriasari, menyatakan bahwa GIFA dan METEC Indonesia 2026 merupakan penyelenggaraan edisi ketiga hasil kolaborasi Pamerindo Indonesia (Informa Markets Indonesia) dengan Messe Düsseldorf Asia. Pameran ini akan berlangsung pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran.

Pameran ini menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Energy & Engineering Series (IEE) dalam Engineering Week. “GIFA dan METEC Indonesia merupakan platform untuk menunjukkan kolaborasi internasional dan lokal dalam industri metalurgi dan foundry,” ujar Lia.

Lia menambahkan, penyelenggaraan tahun ini menjadi yang terbesar sejak pertama kali digelar pada 2023, dengan peningkatan sekitar 20–30% dibandingkan edisi perdana. “Di edisi ketiga ini kami menghadirkan lebih dari 260 perusahaan peserta yang berasal dari 19 negara atau wilayah,” katanya.