DailyFX.ID — JAKARTA – Investasi di Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif dan efisiensi yang meningkat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi selama dua tahun terakhir. Hal ini tercermin dari perbaikan dalam penyerapan tenaga kerja, meskipun sebaran lapangan kerja masih terbatas pada sektor-sektor ekonomi tertentu.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David E. Sumual, menjelaskan bahwa tren penurunan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) menjadi indikator utama efisiensi investasi. Semakin rendah ICOR, semakin efisien investasi dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi.
“Investasi masih tumbuh positif dan semakin efisien dalam mendorong growth pada dua tahun terakhir, seperti yang terlihat dari tren penurunan ICOR,” kata David saat dihubungi, Selasa (22/9/2026).
Namun, David mencatat adanya penurunan kemampuan investasi dalam menciptakan lapangan kerja. Rata-rata penciptaan lapangan kerja per satu juta dolar AS investasi turun dari 26,2 pekerja pada periode 2015-2019 menjadi 16,5 pekerja sejak kuartal IV-2024.
“Namun, penciptaan lapangan kerja justru menurun dari rata-rata 26,2 pekerja per US$ 1 juta investasi pada 2015-2019 menjadi 16,5 pekerja per US$ 1 juta investasi sejak Q4-2024,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan ekonomi Indonesia ke depan tidak hanya sebatas menjaga pertumbuhan investasi, tetapi juga memastikan investasi tersebut memberikan dampak yang lebih besar terhadap penyerapan tenaga kerja.
Meskipun demikian, data terbaru untuk semester I-2026 menunjukkan adanya perbaikan serapan tenaga kerja. Setiap investasi senilai US$ 1 juta kini mampu menyerap 25,3 pekerja, meningkat signifikan dari posisi sebelumnya yang hanya 16,5 pekerja.
David menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua tahun terakhir mengalami akselerasi, didukung oleh belanja sektor publik dan sinergi swasta yang mendukung program unggulan pemerintah. Sektor-sektor seperti agrikultur, industri makanan dan minuman, perdagangan, serta konstruksi menjadi penopang utama pertumbuhan.
“Sayangnya, pola pertumbuhan yang terkonsentrasi membuat pertumbuhan tidak dinikmati secara luas oleh masyarakat, terutama dalam hal pembukaan lapangan kerja,” kata David.
Oleh karena itu, David menilai perlunya perluasan pola pertumbuhan ekonomi agar dapat menjangkau lebih banyak sektor industri dan segmen masyarakat di masa mendatang.
David juga menyoroti dampak signifikan dari program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Program-program ini tidak hanya dirasakan oleh industri yang terlibat langsung, tetapi juga memberikan efek positif pada perekonomian secara keseluruhan.
“Program seperti KDMP dan MBG berdampak signifikan terhadap kondisi perekonomian, tidak hanya pada industri yang terimbas,” ujarnya.
Sebagai contoh, program MBG dinilai mampu membuka lapangan kerja sekaligus mendorong permintaan ekonomi di daerah. Namun, David juga mengingatkan potensi tekanan harga jika terjadi perubahan jalur pasokan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Konsentrasi pertumbuhan pada program strategis pemerintah ini juga menciptakan fenomena policy winners dan policy losers. Pelaku usaha dan masyarakat perlu menyesuaikan diri dengan arah kebijakan yang ada, yang pada akhirnya menghasilkan kelompok yang memperoleh manfaat lebih besar dan kelompok lain yang mendapatkan manfaat terbatas.
“Pola pertumbuhan yang terpusat pada program strategis pemerintah membuat bisnis dan masyarakat perlu menyelaraskan diri dengan program tersebut, sehingga menciptakan policy winners dan losers di kalangan bisnis dan masyarakat,” kata David.
Ikuti DailyFX.ID
