DailyFX.ID — JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan sinyal positif dengan mulai dilirik kembali oleh investor asing setelah sebelumnya mengalami aksi jual. Pada perdagangan Kamis (24/9/2026), saham emiten perbankan ini mencatatkan pembelian bersih (net buy) asing sebesar Rp 6,92 miliar.
Perubahan sentimen investor asing ini terjadi setelah periode penjualan bersih (net sell) yang berlangsung sejak 9 September hingga 23 September 2026, dengan total akumulasi net sell mencapai Rp 2,59 triliun. Pada penutupan perdagangan Kamis lalu, saham BBCA ditutup melemah 1,19% ke level Rp 6.225. Transaksi saham ini melibatkan 75,65 juta lembar dengan frekuensi 12.809 kali, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp 471,97 miliar.
Dalam sebulan terakhir, saham emiten yang terafiliasi dengan Grup Djarum ini tercatat mengalami penurunan 3,49%. Namun, CGS International Sekuritas melihat adanya peluang penguatan saham BBCA pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Perusahaan sekuritas ini memproyeksikan resistance pertama di level 6.258 dan resistance kedua di 6.292. Di sisi lain, risiko pelemahan saham BBCA tetap ada dengan support pertama di 6.208 dan support kedua di 6.192.
Performa finansial BBCA per Agustus 2026 menunjukkan pertumbuhan laba bersih (bank only) yang kuat sebesar 13% secara tahunan, mencapai Rp 4,9 triliun. Secara kumulatif, laba bersih hingga Agustus 2026 tercatat sebesar Rp 40,2 triliun, naik 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini melampaui pencapaian Juli 2026 yang hanya 5%, memberikan dampak positif terhadap pergerakan saham BBCA.
Berdasarkan analisis Verdhana Sekuritas, laba bersih BBCA per Agustus 2026 telah mencapai 69% dari proyeksi laba penuh tahun 2026, menandakan bahwa bank berada di jalur yang tepat untuk mencapai targetnya. Kinerja solid di bulan Agustus didukung oleh stabilnya Net Interest Margin (NIM) di angka 5,6%, yang dipicu oleh kenaikan imbal hasil aset sebesar 10 basis poin menjadi 6,6% dan biaya dana yang terjaga di 1,1%. Cost ratio yang hanya 19% juga menjadi yang terendah di antara bank-bank besar lainnya, yang rata-rata berkisar 35-45%.
Pendapatan bunga bersih pada Agustus 2026 tercatat naik 8% menjadi Rp 7,1 triliun, dengan total akumulasi Rp 53,8 triliun atau tumbuh 1%. Laba bersih sebelum penyusutan juga meningkat 4% menjadi Rp 6,4 triliun, membawa totalnya menjadi Rp 51,5 triliun, naik 2%.
Dari sisi neraca, BBCA mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11% dan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 3%, yang menyebabkan Loan to Deposit Ratio (LDR) naik 2% menjadi 81%. Verdhana Sekuritas memprediksi pertumbuhan kredit akan terus meningkat, diperkirakan berkisar 8-10% sepanjang 2026. Kenaikan DPK ditopang oleh kinerja kuat sejumlah produk tabungan.
Verdhana Sekuritas merekomendasikan ‘buy’ untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.100. Target ini setara dengan Price to Book Value (PBV) 4,1 kali dari posisi saat ini 3,3 kali, dan Price to Earnings Ratio (PER) 2026 sebesar 20,8 kali dari saat ini 16,9 kali.
Ikuti DailyFX.ID
